Ada Sebuah Janji Yang Harus Kupenuhi

Semenjak masih sangat remaja, di sebuah kota kecil yang masih bersih dari limbah metropolitan, aku menjalin hubungan cinta dengan teman SMU. Dewi namanya. Mungkin bukan cinta, sebab tidak keluar dari mulutku perkataan itu. Hubungan kami waktu itu hanyalah sebatas teman yang berani memisahkan diri dari rombongan teman-teman yang lain. Sering berangkat bersama-sama dan pulang agak lama, untuk ngobrol sesuatu yang kurang kumengerti sendiri. Tetapi jika ditanya teman-teman tentu jawabanku lebih dari yang sebenarnya terjadi.

Kadang-kadang malam minggu nongol, apel istilahnya buat anak muda. Dengan alasan meminjam atau mengembalikan buku catatan. Setiap buku hanya kupandangi siang – malam menunggu malam minggu datang. Kalau sekiranya sehabis nonton Sinetron cinta atau membaca Novel, biasanya terinspirasi membuat puisi yang kuselipkan pada buku yang akan dikembalikan. Setelah itu, jika bertemu kami berdua sama-sama diam menahan malu. Sebagai seorang Laki-laki biasanya yang memulainya pembicaraan untuk mencairkan suasana. “ Bagaimana Puisiku ,“ “ Lumayan “ Itulah jawaban yang selalu keluar dari mulutnya. Tidak pernah mencela dan tidak pernah memuja.

Kami menjalani hubungan ini seperti air mengalir, tanpa rintangan, tanpa ikatan, yang akhirnya lepas setelah kelulusan. Jalan telah terbelah, tanpa sedikitpun ada perasaan bersalah. Ukuran masa depan untuk pernikahan masih gelap tergantung di awan. Dengan berbekal warisan orang tua sebagai anak tunggal, kuputuskan melanjutkan kuliah. Akan kemana Dewi seteleh ini sama sekali tidak peduli. Kami berdua menganggap ini sebagai sesuatu yang wajar yang harus dijalani semua orang untuk membuat hidup menjadi lebih baik. Tidak ada perpisahan dan linangan air mata. Masa depan masing-masing kelihatanya lebih berarti daripada hubungan ini.

Lingkungan serba baru, jauh dari orang tua dan teman pada awal kuliah sangat menyiksa. Kesepian benar-benar membosankan. Kamar kost ukuran 3×3 adalah pemandangan setiap harinya. Barulah menginjak minggu kedua, kehidupan baru mulai agak menyenangkan. Kunjungan antar kamar sering terjadi diantara penghuni. Ketika bermain kekamar temanku, aku lihat dia sedang serius menulis surat. Kedatanganku menghentikan pekerjaanya. “Nulis surat Buat siapa, Pacar atau Pacar ?” “Walah, kalau itu belakangan. Ini lebih penting. Minta uang tambahan dari orang tua. Mana dapat bersenang-senang dengan jatah bulanan.“

Dia menganjurkan agar supaya belajar menulis surat untuk mendapatkan uang tambahan untuk kebutuhan buku, praktikum dan lain-lain dari orang tua yang intinya ada tambahan uang untuk foya-foya. Buat dia mungkin bukan masalah, tetapi untukku jelas bermasalah. Tetapi melihat dia menulis surat, lama-lama aku juga tertarik menulis surat. Tetapi buat siapa? Buat orang tua tidak mungkin, sebab tidak tega mereka mendengar ceritaku yang serba kekurangan sebab akan menambah beban fikiranya.. Akhirnya, aku memutuskan untuk menulis surat kepada Dewi.

Sama sekali tidak menduga apabila setelah mengirim surat hubungan kami berdua setelah berpisah akan bertambah lebih cerah. Surat dalam tahapan belajar yang hanya berisi tentang kabar seorang mahasiswa baru yang sedang giat belajar dan menambah pengalaman hidup, ternyata ditanggapi luar biasa olehnya. Suratku begitu cepat dibalas, bahkan menggunakan kilat khusus segala. Isi suratnya menceritakan dirinya yang telah bekerja sebagai buruh di pabrik sepatu, sehingga mampu mengirim surat dengan kilat khusus. walaupun dengan gaji UMR untuk kehidupan disebuah kota yang kecil sangat lumayan. Kemudian ditutup dengan sebuah harapan yang besar agar supaya aku dapat cepat-cepat menggondol gelar kesarjanaan.

Pertemuan pertamaku setelah kami berpisah sangat berkesan dan sedikit menginjak dewasa. Apa yang menjadi dugaanku selama ini salah semuanya. Dia masih seperti dulu, tidak pernah mencela dan memuja. Keberanianya berbicara di surat, tidak terjadi saat kami berdua berbicara. Dia tidak ubahnya seperti macan kertas.Aku bercerita seperti Radio saja sebab tidak sedikitpun ditanggapi. Hanya terakhir menjelang pulang, mengatakan kepadaku bahwa dirinya belum mau menikah dalam waktu dekat. “Setelah bekerja apakah sudah ada rencana menikah?”Tanyaku “Rencana ada, tapi tidak sekarang. Masih terlalu muda, mungkin lima tahun lagi.“

Masa-masa kuliah walaupun serba kekurangan tetapi lebih menyenangkan dibandingkan dengan pengapnya pabrik Sepatu seperti cerita Dewi. Perkenalan demi berkenalan dengan gadis Kampus dari hari ke hari semakin bertambah. Tetapi selalu berantakan jika hubungannya semakin serius dan berhadapan dengan realitas. Kebanyakan mereka melihat sebuah Prospek sebagai sesuatu khayalan, padahal inilah satu-satunya yang kumiliki. Sehingga banyak yang mengharapkan setelah menikah langsung bahagia tanpa didahului menderita. Sebenarnya jarak diantara teman-teman kami seperti hilang ketika berada dalam ruang kuliah, setelah itu jarak terbuka lebar. Dari pelataran parkir akan sangat terlihat jaraknya.

Dengan berbagai pertimbangan, aku putuskan untuk menegaskan hubungan kami sebelum wisuda. Pertimbangan utama adalah sangat jelas, Dewi mau menerima tawaran sebuah prospek. Walaupun, aku sendiri sangat yakin bahwa yang difikiran Dewi tentang hubungan ini adalah bahwa kesarjanaan akan melapangkan semua jalan. Kedatanganku kerumahnya hanya berbekal sebuah prospek berbungkus cinta. Senyuman yang mengantarkanku pulang merupakan sebuah semangat untuk mempercepat mewujudkan cita-cita atau yang lebih tepat khayalan. Sebuah khayalan yang mendapat sambutan adalah sesuatu yang sangat berharga.

Setelah wisuda tanpa dihadiri orang tua karena alasan biaya, aku cepar-cepat pulang menemui kedua orang tuaku yang sudah lama terlupakan Do’a restunya, tetapi kiriman bulannya tidak pernah terlupa. Dengan berbekal selembar ijazah, aku ingin membuat beliau bangga. Ketika memasuki rumah yang makin lama makin miring ke kiri, aku terperanjat. Melihat orang tuaku yang tinggal Ibu dan Dewi begitu akrabnya menunngguku. Terharu sekali menyaksikan pemandangan seperti ini. “Ibu sudah ingin menimang cucu” Perkataan inilah yang muncul pertama kalinya melihat kedatanganku.

Ketika makan bersama, keduanya begitu sangat bahagia sehingga mulutku tidak mampu menerangkan kepada mereka bahwa Wisuda hanyalah awal bukan segala-galanya. Aku ingin mereka bersabar dan tidak menambah beban fikiran dengan rencana pernikahan sebelum mendapatkan pekerjaan.

Teh manis yang dihidangkan terasa pahit sekali, ketika Dewi bercerita tentang tabunganya selama lima tahun bekerja di pabrik sepatu yang pengap, sudah sangat lebih dari cukup untuk biaya pernikahan sederhana dan memperbaiki rumahku yang miring kekiri. Aku sangat terharu sekali mendengar ceritanya dan malu sekali mendengar cerita ini. Sebab sampai sekarang ini hanya mampu menghabiskan harta orang tua dan belum mampu menebusnya. Kalau bukan laki-laki,sudah dari awal air mata ini keluar.

Dalam perjalanan mengantarnya pulang, tidak satupun segudang pertanyaan dewi yang terjawab. Untuk pertama kali sebagai seorang laki-laki merasakan begitu beratnya menjawab pertanyaan di luar kata cinta. “krisis ekonomi” adalah jawaban yang ada di kepala. Tetapi tidak mampu keluar dari mulut, sebab seorang laki-laki dituntut untuk dapat memenuhi janji.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *