Akhir Dari Sebuah Pertanyaan

famiele.com. – Aku mneyebutnya Bunga Cinta. Tidak di hadapannya, hanya di labirin-labirin hatiku yang selamanya menganga karena kering dilanda kemarau yang panjang. Aku berdiri di dekatnya, merasakan geletar alir darahnya, juga mendengarkan degup merdu jantungnya. Namun, dalam jarak yang hampir tidak ada rentang itu, aku tak mampu menggapainya. Bunga Cintaku, selamanya adalah bunga terlarang yang diciptakan hanya untuk kupuja, bukan dimiliki, bukan sama sekali. Tapi siapa yang sanggup berdiri dengan teguh di sisimu, bila aku yang berdiri ini memendam cinta yang terlalu mendalam padamu?

Tiga tahun lalu, aku sempat memiliki keberanian. Aku menyebutnya sebuah lompatan kuantum hati yang mengantarkan aku ke dunia yang penuh gelora. Aku harus mengatakannya, setidaknya sebelum aku mengambil keputusan penting dalam sejarah hidupku ketika itu. Tetapi Apa yang Terjadi, malam itu aku menyaksikan salah satu kawanku, duduk di dekat Bunga Cintaku. Dan sepertinya, Bunga juga memiliki sejumput perasaan pada laki-laki yang kurang aku sukai itu. Lantas, kalau sekarang mereka duduk berdua dengan pancaran keakraban yang begitu mudah ditafsirkan, apakah aku bisa menghindari prasangka burukku. Ah tidak, aku tidak terlalu sanggup untuk tidak menyimpulkan bahwa Bunga sudah memiliki kekasih.

Malam itu juga aku mengurusi tiket untuk pergi terbang ke Osaka, Jepang. Mungkin lari dari Indonesia adalah jalan terbaik untuk membumihanguskan kenangan cinta yang tak kesampaian. Aku akan meneruskan studi di sana, di kota matahari, di mana aku akan benar-benar merasakan sentuhan bunga dalam bentuk pengertian yang lain, yang lebih nyata, indah, harum tetapi dingin. Tetapi ternyata bayangan Bungaku tetap saja ada di pelupuk mata yang semakin lelah ini.

Selama aku menghilang bukan hanya Bunga yang mencariku. Banyak dari temanku bahkan keluargaku. Ketika aku membuka email, surat-surat elektronik bertumpuk menanyakan keberadaanku. Aku balas email dari ibuku. Kukatakan padanya bahwa aku baik-baik saja. Aku berada di luar negeri. Tetapi aku tak sanggup membalas surat dari Bungaku, aku hanya bisa membacanya dan terus membacanya. Sampai aku sadar bahwa kalimat-kalimat Bunga tak sedikitpun mencerminkan perasaan kehilangan. Terlebih setelah aku membaca email terakhir darinya. Ia memintaku menghadiri pernikahannya. “Habis sudah…”

Setelah tiga tahun, aku memutuskan untuk kembali pulang, kupikir kini langkahku telah mantap untuk kembali merajut hidup yang terbengkalai. Ibu memeluku erat, sepertinya ia tak mau lagi kehilanganku untuk kesekian kalinya. Sehabis makan malam, ibuku menatapku dalam-dalam. Aku bertanya ada apa gerangan. Ibuku tersenyum yang kemudian disusul dengan kata-kata yang meluluhlantakkan perasaanku malam itu. “Sampai kapan kamu akan lari? Ibu juga tahu selama ini kamu menghindari rumah dan pergi jauh bukan karena masalah keluarga kita,” katanya.

“Karena Bungakan?” Ketika nama itu disebut, aku terpelanting ke dasar dunia kelam yang sudah terlalu lama menguasaiku. Aku kembali terkubur ketika nama itu disebut, nama yang selalu mengandung energi dahsyat yang bisa menyedotku dalam-dalam. Kuhentikan segala aktivitas. Darahku menderas dan mata ini rasanya sendu. Ibuku berkata lagi, “Kamu seperti ayahmu, pe-nge-cut!” mendengar kata ‘pengecut’ hatiku teriris tanpa bisa aku menolaknya. Aku memang pengecut, ya, seperti ayahku.

“Bunga sudah satu bulan terbaring di rumah sakit. Tepat pada saat pernikahannya, karena sang pengantin laki-laki mesti meringkuk di penjara.” Matahari yang tengah padam kini menyala kembali. Angin yang sempat berhenti sesaat kini mengalir kembali dengan sangat deras. Detak jantung sesaat tak berdegup namun segera kembali normal. Tanpa banyak kata, tanpa memberi jeda untuk penjelasan selanjutnya, aku langsung lari,. Ibuku memanggil, aku tak perduli.

Kudorong pintu perlahan. Bunyi derit daun pintu terdengar membelah langit hati. Kesunyian terpecah oleh udara yang terobek oleh suara. Matanya berpaling arah dari tataran kalimat pada bingkai novel ketika mendengar derit daun pintu yang terdorong. Kini Bunga menatapku, tajam, penuh tanya. Matanya tajam berbinat seperti diserang amuk gelombang rasa.

Aku bergerak sejengkal demi mendapati dirinya. Ia bangkit dari tempat tidur tanpa bicara seperti orang melindur dalam mimpi. Matanya tak melepaskan gerak seluruh jasadku. Aku tersihir oleh tikaman tajam matanya yang penuh binar. Sejenak matahari berhenti beredar. Semesta terlepas dari genggaman Tuhan yang tersenyum. Malaikat berkerumun di sekitar ruang ini, menonton kami, melihat dan menyaksikan pertemuan kami.

Ketika mulutku mencoba mengucapakan sebuah kata, tangan kanan bunga bergerak mendaratkan tamparan keras di pipi kiriku. Tak kulepas menatapnya sekalipun sakit mendera. Beginilah bayaran yang pantas untuk seorang pengecut bukan? Kugenggam tangan Bunga. Saat itulah aku tahu sejumput rahasia hati yang terpendam di dalam lubuk jiwanya. Air mata segunungan mengucur dari lumbung kelopak matanya. Ia basah dalam tangis mengharu biru.

Aku tak lagi mampu bertahan. Aku memeluknya erat. Malaikat kulihat cemburu. Tuhan tertawa menatapku. Sejak kemudian terdengar isaknya. Ia memukul-mukul lembut dadaku demi membuang semua emosinya. Mulut kelunya pecah oleh kata-kata ketidakberdayaan, “Kau jahat! Kau jahat! Kenapa kau tidak mengatakannya? Kenapa kau diam saja. Apa kau tidak tahu selama ini aku menunggumu. Apa kau terlalu bodoh untuk memahami perasaanku tanpa harus aku ucapkan. Kau pengecut!

Dalam pertemuan itu, terkuaklah apa yang sesungguhnya terjadi. Ia putus asa dan memutuskan untuk menikah dengan lelaki yang membabi buta mengejar-ngejarnya. Bukan karena cinta, tidak sama sekali. Namun lebih karena ingin mengalihkan gelombang rasa yang tidak ada ujung pangkalnya. Tapi Tuhan punya rencana lain. Nasibnya terkatung dalam kenyataan buruk. Di hari pernikahannya, sang pengantin malah meringkuk di tahanan demi membayar kejahatannya. Bunga jatuh sakit. Sakit karena dua sebab, karena kepergianku yang terlalu lama dan karena kenyataan yang membuat keluarganya malu.

“Setelah kau sembuh nanti, kita menikah. Kau mau kan jadi ibu untuk anak-anakku, Bunga?” Bunga tidak menjawab. Ia diam sejenak, tangisnya berhenti, kemudian ia melepas pelukannya dan menatapku dengan mata sendu yang basah oleh air bening hangat. Ketika itu aku melihat ia menganggukkan kepalanya. Dan meledaklah tangisan itu memecah semesta yang selama ini beku. Es mencair menenggelamkan lubang prasangka buruk, matahari bersinar terang benderang menghangatkan dan alam kini sudah kembali bersimfoni.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *