Aku Terima Kenyataan Pahit Hidupku

famiele.com – Pembaca yang budiman, sebelum aku menceritakan kisahku  ijinkan aku memperkenalkan diri. Namaku Ani (bukan nama sebenarnya), saat ini usiaku telah mencapai 40 tahun dan memiliki empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan.

Awal kehidupan rumah tanggaku dimulai dengan ‘married by accident’ karena aku hamil saat masih duduk di bangku  kuliah. Kuliahku terputus ditengah jalan dan menerima resiko menikah sebelum waktunya. Kujalani hidupku dengan rasa penyesalan, karena aku harus mengubur cita-citaku untuk menjadi seorang dokter.

Untungnya suamiku memiliki karir yang lumayan bagus. Karirnya terus menanjak dan memperlihatkan prestasi yang sangat luar biasa. Dalam waktu singkat, dia sudah mencapai tingkat sejajar dengan Manager. Bagian pekerjaannya yang dianggap ‘lahan rupiah’ membuat rejeki begitu deras mengalir dan kami menikmati kehidupan yang sangat membahagiakan.

Sebelumnya tak pernah kuduga, jika kebahagiaan yang tengah kurasakan tiba-tiba disabot oleh kenyataan pahit yang merisaukan, karena mendadak suamiku memperlihatkan tingkah laku yang mencurigakan, mulai dari pulang yang sering terlambat,  sampai sikapnya yang mulai dingin terhadapku.

Awalnya aku bisa menerima alasan yang selalu dilontarkannya, namun ketika kebiasaan pulang malam berlanjut samapi berbulan-bulan bahkan lebih dari satu tahun aku mulai curiga, dan aku berniat menyelidiki kebenaran akan alasan yang selalu dilontarkan suamiku, benarkah ia sibuk dengan urusan pekerjaannya atau sibuk karena hal lain.

Suatu hari dengan naik taksi,  kutunggui suamiku diluar kantornya dan saat mobilnya bergerak keluar aku membuntutinya. Ternyata ia menuju ke kawasan perumahan mewah di Jakarta Timur. Di sudut jalan, aku berhenti untuk mengawasi, hatiku berdebar keras, jantungku nyaris berhenti berdenyut, ketika di pintu pagar suamiku disambut oleh perempuan cantik. Sikap mereka tampak mesra, setelah itu suamiku masuk dan pintu tertutup.

Setelah peristiwa itu, aku berfikir untuk menangkapnya dirumah kekasih gelapnya dan membuktikan kebejatan moral suamiku. Dan akhirnya pikiran itu kuwujudkan saat sekali lagi aku pergoki suamiku berada dirumah itu. Dan apa yang ada dibenakku ternyata benar adanya, dengan sedikit memaksa aku masuk kedalam rumah itu dan kudapati suamiku baru saja selesai mandi, kamipun langsung bertengkar hebat.

Sejak itu, jiwaku terasa hancur. Tak ada semangat hidup lagi setelah mengetahui penyelewengannya. Satu-satunya jalan, aku mengancam akan menghancurkan karirnya dengan cara melaporkan kebejatan moralnya kepada atasannya. Mungkin karena ancaman itu ia takut. Tak lama kemudian ia kembali bersikap seperti biasanya, dan berupaya memperbaiki kekeliruannya.

Ternyata kebiasaan jatuh cinta pada perempuan lain tak bisa ia kendalikan. Kali ini dia mencintai seorang perawan tua yang berprofesi sebagai guru. Aku tak mengira jika perselingkuhannya kali ini menggiringnya dalam perkawinan resmi. Suamiku menikah lagi. Dan kali ini aku benar-benar mengalami kehancuran yang tak mungkin bisa aku tahan lagi.

Dan selanjutnya suamiku dipecat secara tidak hormat karena melanggar undang-undang kepegawaian terkait perkawinan keduanya, aku menerima nasib yang buruk. Tak ada lagi gaji bulanan yang bisa diberikan suamiku. Tahun-tahun awal kami masih bisa hidup normal dengan tabungan kami.

Namun lewat tiga tahun, aku mulai berusaha untuk mencari uang sendiri, dengan car berjualan kue untuk sekedar menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Suamiku tidak pernah kembali kerumah lagi, dia hidup bersama istrinya sampai punya anak, kehidupannya mungkin dibiayai penuh oleh istrinya.

Selanjutnya kehidupan aku jalani denga perasaan yang sangat pedih, karena penderitaan, kesengsaraan secara bertubi-tubi terus menghantam tat kala suamiku kembali kerumah dengan tubuh yang kurus dan tatapan matanya yang kosong. Laki-laki yang dulu begitu kukagumi kini hanya seorang yang lemah dan aku tak tega untuk mengusirnya. Karena walau bagaimanapun ia masih ayah dari anak-anakku. Aku menerimanya dan menyediakan kamar untuk ditinggali.

Setiap pagi ia pergi entah kemana dan menjelang malam ia kembali kerumah dan langsung mengurung diri dikamar. Aku mulai dihantui baying-bayang ketakutan, beberapa kali ia menatapku dengan pandangan dendam, lalu beberapa kali juga dia mengancamku dengan kekerasan. Dan lama kelamaan aku mulai tak tahan dengan keadaan ini.

Disaat seperti itu aku memutuskan untuk kembali kerumah orang tuaku, setelah anak-anak dapat hidup mandiri dan segera kusampaikan maksudku kepada anak-anak danuntunglah mereka mau menerimanya dan mereka menyokongku utnuk pulang ke kampong halamanku.

Belum setahun aku pulang ke rumah orang tuaku, aku menerima telepon dari anakku, suamiku telah kehilangan ingatan. Dia sering keluar rumah dengan bercelana pendek dan bertelanjang dada. Sering pula berhari-hari tidak pulang. Dikamar tidurnya ia sering mengoceh sendiri. Aku iba mendengarnya, tetapi kebencian sudah menguasai hatiku. Pembaca salahkah sikapku ini, dengan meninggalkanya dalam keadaan yang demikian..??

 

Pembaca bisa mengirimkan cerita kehidupan/kisah nyata ke email redaksi@famiele.com

 

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *