Ampuni Aku Ibu………..

famiele.com – Sejak Aku kecil aku tak pernah tahu siapa ibu kandungku sebenarnya, karena selama ini aku diasuh oleh perempuan tua cacat yang mengaku memungutku sejak aku kecil, sebut saja namanya  Bu Rima (bukan nama sebenarnya). Aku sebenarnya merasa tak betah tinggal bersamanya, selain karena penampilan fisiknya yang menyeramkan akibat luka-luka disebagian wajah dan kepalanya, ia juga kuanggap terlalu memproteksi aktifitas sehari-hariku.

Harus aku akui Bu Rima memang sangat menyintai dan memperhatikanku seperti layaknya anak kandung sendiri. Semua keperluan hidup, biaya sekolah dan lainnya selalu ia penuhi, dan terus terang aku sangat berhutang budi terhadapnya. Andai saja ia memiliki fisik yang sempurna atau tak memiliki cacat yang sangat menyeramkan mungkin ia akan aku anggap sebagai ibu kandungku sendiri.

Terkadang aku merasa heran saat mendapatkan perhatian yang sangat berlebihan darinya, seperti saat aku hendak menerima raport dari sekolahku, ia bersikeras untuk datang ke sekolahku untuk mengambil raport, padahal aku sudah melarangnya karena aku tak ingin teman-temanku tahu tentangnya, aku juga takut jika teman-teman tahu mereka tak akan lagi mau berteman denganku.

Tapi rupanya Bu Rima tetap ngotot, ia ingin tahu kegiatnku di sekolah dan nilai-nilai yang aku dapatkan karena selama ini aku memang tak pernah menunjukan nilai-nilai raportku kepadanya, ia juga tak tahu apa saja yang aku lakukan saat berada di sekolah, walau sangat terpaksa aku akhirnya membiarkan ia pergi ke sekolahku. Seperti sudah kuduga sebelumnya teman-teman langsung mengerubungiku, “Siapa Din? Serem amat, cocok tuh buat main film horor,” kata teman-temanku saling menimpali.

Bu Rima memang telah berusaha berpenampilan rapi, namun tetap saja wajahnya yang cacat menyeramkan masih sangat jelas terlihat. Mendapat pertanyaan seperti itu, aku sedikit agak bingung, secara spontan aku mengatakan bahwa Bu Rima adalah pembantu ibuku yang telah lama bekerja di rumahku, “kasihan dia ngga punya keluarga lagi, jadi keluargaku menampungnya,” ujarku saat itu.

Bu Rima dengan jelas mendengar perkataanku, saat itu kulihat ada pancaran aneh dari matanya yang terlihat juling akibat tertarik daging bekas lukanya. Ia terlihat begitu terpukul namun dari bibirnya tetap mengumbar senyum, senyum yang juga terlihat aneh seolah berusaha menutupi kegundahan batinnya.

Kejadian serupa juga terulang saat aku diwisuda, bahkan kali ini keadaanya lebih runyam dibandingkan saat itu. Saat itu aku sempat memaki-makinya dihadapan teman dan kekasihku. “Ibu apa-apaan sih datang kesini, Ibukan bukan ibuku, ibu ngga berhak datang kesini, liat tu semua orang gempar gara-gara ibu datang kesini,” bentakku sambil membalikan tubuhnya dan menyuruhnya pulang.

Dari mata Bu Rima menetes airmata, ia masih berusaha tersenyum, “Din ibu cuma ingin melihatmu di wisuda, ibu ingin melihatmu memakai pakaian wisuda, ibu ingin melihat kebahagiaan kamu saat kamu berhasil menyelesaikan studimu, ibu tak ingin apa-apa, ibu tak ingin meminta balas budimu dengan menanggap ibu sebagai anggota keluargamu. Ibu tahu wajah ibu buruk rupa, tapi ibu yang mengasuhmu dari kecil, saat kamu masih bayi,” air mata mulai membasahi wajahnya. Dengan terisak-isak ia meninggalkan aku pergi

Tak lama berselang, kudengar kegaduhan di luar gedung tepatnya diseberang jalan. Kami yang telah selesai dengan prosesi wisuda berhamburan keluar untuk melihat apa yang terjadi. Di pinggir jalan tergeletak seorang perempuan tua dengan muka yang menyeramkan bersimbah darah akibat tertabrak sebuah mobil, “Din pembantu kamu tuh,” celetuk teman-temanku.

Walau ragu aku dengan terpaksa menghampirinya, Bu Rima masih tersadar, dari mulutnya meluncur kata-kata maaf yang ditujukan kepadaku, “Maafkan ibu Din, ibu telah membuatmu marah dan terganggu, ibu hanya berharap setelah ini kamu bisa mengambil sesuatu yang ada dilemari pakaian ibu, benda itu adalah wasiat yang diberikan ibu kandungmu, saat ini sudah waktunya kamu tahu siapa ibu kandungmu,” setelah kata-kata itu, matanya menutup rapat untuk selama-lamanya, Ya.. Bu Rima meninggal dihadapanku.

Setelah prosesi selesai aku langsung menuju rumah dan mencari apa yang disampaikan Bu Rima. Dalam lemari itu terdapat seonggok pakaian, dan sebuah amplop coklat yang telah kusam. Dari dalam amplop kukeluarkan sebuah potongan surat kabar beserta sebuah foto perempuan yang sangat cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang perempuan berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei  basah menerobos api yang sudah mengepung rumah. Sang perempuan menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun.

Walau sudah usang, aku cukup dewasa untuk mengetahui siapa perempuan cantik di dalam foto dan siapa perempuan pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu Rima Perempuan  yang sekarang telah terbaring kaku dan telah kembali ke bumi. Spontan air mataku menetes keluar tanpa bisa di bendung. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, aku berlari menuju pusara Ibu Rima, “Ibu ampuni aku yang sangat durhaka kepadamu,”

 

Anda bisa mengirimkan cerita atau kisah nyata ke  email redaksi@famiele.com

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *