Anna Mariana, Kartini Pengrajin Tenun dan Songket Indonesia

famiele.com – Bagi para pengrajin tenun dan songket di Indonesia nama Ana Maiana mungkin tak asing lagi. Perempuan kelahiran Solo 1 Januari 1960 ini memang terkenal dengan sepak terjangnya memperjuangkan kain tenun dan songket untuk berada di level tertinggi agar lebih dicintai dan dikenal baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Kecintaannya pada kain tenun dan songket bukanlah tanpa alasan, Ia menyebut bahwa dua jenis kerajinan tersebut memiliki nilai luhur, sejarah budaya dan filosofi yang tinggi mulai dari sistem pembuatannya yang masih dipertahankan sampai saat ini yaitu dengan cara tradisional dan hand made. “Semua produk-produknya mempunyai ciri khas , keindahan, keunikan motif yang berbeda-beda di setiap daerah masing-masing di seluruh Indonesia.” Ujar Ana

Hingga kini Ana masih terus aktif berjuang mengangkat dan memperjuangkan harkat dan martabat Tenun dan Songket Indonesia dengan berbagai cara termasuk membina para perempuan pengrajin tenun dan songket tradisional agar memiliki kemampuan untuk mengembangkan dan membuat produk-produk tenun yang berkualitas sesuai dengan standar yang baik agar mampu memenuhi permintaan pasar, baik dalam maupun luar negeri.

Diakui Ana tak mudah memperkenalkan motif-motif baru kepada para pengrajin, menurutnya hal ini penting dilakukan agar para pengrajin dapat mengembangakan motif-motif yang ada dengan inovasi baru sehingga dapat melahirkan karya dan kreasi yang terus berkembang mengikuti perkembangan jaman

Selama kurang lebih 36 tahun Ana berkiprah merekrut dan membina pengrajin tenun dan songket, Ia telah melahirkan jutaan pengrajin di 32 provinsi  yang tersebar di berbagai daerah kabupaten di seluruh Indonesia yang berada di bawah naungan Yayaan Cinta Budaya Kain Tradisional Nusantara (CBKN) dan Komunitas Tekstile Tradisional Indoenesia (KTTI)

Sang Kartini Indonesa ini juga telah berhasil membawa tenun dan songket memiiliki hari nasional. Berkat perjuangannya bersama seluruh pengrajin tenun dan songket, Presiden RI Joko Widodo mengabulkan permohonannya agar tenun dan songket memiliki hari nasional dengan menetapkan tanggal 7 September sebagai Hari Tenun Nasional.

Dibalik semangat perjuangannya membawa tenun dan songket berada di kelas tertinggi, Ana mengaku banyak terinspirasi oleh perjuangan Raden Ajeng Kartini yang tak kenal lelah memperjuangakan hak-hak kaum perempuan di bidang pendidikan agar memiliki kesamaan hak dengan kaum lelaki

“Perempuan itu harus berani dan optimis dalam setiap menentukan langkah kehidupan, serta berani dan tegas dalam setiap mengambil keputusan. Harus dapat memberikan motivasi  dan inspirasi kepada kaum Perempuan Indonesia, agar mampu berdiri sendri dan mandiri.  Perempuan Indonesia harus memiliki semangat dalam meraih pendidikan setinggi – tingginya untuk meraih cita – cita. Kaum perempuan juga harus mampu menjalani kehidupan sesuai peran masing-masing dan dituntut untuk dapat menjalani kehidupan ekonomi, politik dan sosial,” ujar perempuan murah senyum ini.

Selanjutnya Ana berharap masyarakat Indonesia bisa mencintai setiap produk asli Indoensia termsuk kerajinan tenun dan songket, “gunakan busana-busana tenun-tenun tradisional pada setiap hari kerja yaitu pada setiap seminggu 2X bagi seluruh lapisan masyarakat indonesia, sebagai bentuk dan wujud pelestarian serta kecintaan kita pada budaya Indonesia. Sebab jika bukan berharap pada anak bangsa, untuk mencintai budaya nya sendiri , lalu kita akan berharap pada siapa lagi,?”  ujar Anna.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *