Bulan Ramadhan berat diongkos? Anda tidak sendiri!

Satu dari tiap tiga shoppers mengatakan bahwa THR (Tunjangan Hari Raya) yang mereka terima tidak mencukupi untuk menutupi lonjakan belanja bulanan mereka selama bulan puasa. Kita lihat beberapa hipotesa yang biasanya terjadi:

Pertama, setiap kali memasuki bulan puasa harga barang-barang kebutuhan sehari-hari melonjak naik. THR baru diterima 2 minggu sebelum hari Raya Idul Fitri, sedangkan harga-harga sudah melonjak begitu memasuki awal bulan puasa.

Kedua, beberapa kebiasaan selama bulan puasa dapat memberikan penjelasan lainnya. Selama bulan puasa, ibu rumah tangga berusaha menyajikan yang terbaik bagi keluarganya untuk sahur maupun buka puasa, baik dari segi kuantitas, ataupun kualitas dengan membeli produk-produk yang sedikit lebih premium. Juga ada kebiasan memberikan kudapan (takjil) atau makanan kepada anak-anak sebagai ‘hadiah’ mereka karena telah melakukan puasa dengan baik di hari tersebut. Hingga membuat pengeluaran bertambah.

Penjelasan yang ketiga sangat relevan untuk keluarga yang sudah memiliki anak di usia sekolah. Sudah sekitar 3 tahun berturut-turut, bulan puasa dan Lebaran berdekatan atau bersamaan dengan tahun ajaran baru. Bahkan di tahun ini dan 2 tahun ke depan, bulan puasa berlangsung bersamaan dengan libur sekolah. Orang tua sangat paham, pada saat libur sekolah tanpa ada hari raya saja, pengeluaran belanja bertambah.

Menariknya lonjakan pengeluaran bulanan ini juga terjadi di antara para jomblo! Jumlah jomblo yang merasa tambahan pengeluaran selama bulan puasa memberatkan sama tinginyanya (55%) dengan keluarga yang sudah memiliki anak (53%). Jumlah yang paling sedikit adalah pasangan yang menikah tanpa anak (44%). Untuk para jomblo, lonjakan ini kemungkinan disebabkan oleh seringnya buka bersama makan di restoran.

Bagaimana shoppers menyiasati hal ini? Satu dari tiga shoppers ini menyatakan bahwa mereka harus meminjam uang untuk menutupi lonjakan pengeluaran mereka. Menariknya ternyata hal meminjam ini terjadi sedikit lebih banyak di kalangan kelas ekonomi atas dibandingkan dengan kelas menengah bawah.

Survei ini dilakukan dari tanggal 9 sampai 12 Juni 2016 kepada modern trade shoppers dengan jumlah lebih dari n=1,300 shoppers yang merupakan bagian dari 500,000+ anggota panel SnapCart (www.snapcart.co.id ). Pengumpulan data dilakukan melalui smartphone milik shoppers melalui aplikasi Snapcart.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *