Cinta Dari Lelaki Biasa

Menjelang hari pernikahan, aku masih saja merasa sulit mengungkapkan alasan mengapa aku mau menikah dengan lelaki ini. lalaki yang amat sederhana, tidak begitu tampan dan sekilas tak memiliki kelebihan apa-apa. Baru setelah menengok kebelakang, hari-hari yang dilalui, aku baru sadar ternyata keheranan yang terjadi bukan semata milikku, melainkan menjadi milik orang banyak. Papa, mama, kakak-kakakku, bahkan para tetangga dan teman-temanku.

Mereka semua seolah tak percaya aku memilih lelaki yang menjadi suamiku, bahkan keluargaku bukan saja tak percaya tapi juga menolak rencana pernikahan kami cuma karena aku anak paling cantik, paling berprestasi, bermasa depan cerah karena aku seorang insinyur dan memiliki segudang talenta lain diantara kakak-kakakku. “anakku sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!”

Sejenak aku memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan. “Aku cuma mau Dia, sahutku pendek dengan airmata mengambang di kelopak. Dan hari itu aky tahu, keluargaku bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai calon suami pilihanku. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Sayangnya Aku lagi-lagi gagal membuka mulut dan membelanya. Barangkali karena aku memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Aku itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Ia tampak ‘luar biasa’. Aku cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntunku menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima ia. Di sampingnya aku merasa bahagia.

Setelah lima tahun pernikahan kami, ketidak sukaan orang-orang disekitarku tetap saja terpelihara. Ocehan-ocehan bernada miring tentang suamiku masih saja santer terdengar, pun semua keluargaku, selalu saja menyebut suamku sebagai laki-laki paling beruntung di dunia karena bisa memiliki aku yang serba lebih dari dirinya. Padahal saat itu aku sudah dikarunia dua orang buah hati dan semuanya bisa terurus dengan baik. Tetapi seolah-olah semua itu berkat kontribusiku semata, sementara suamiku tetap dipandang sebelah mata.

Mereka masih sering berbisik-bisik di belakang kami, apa sebenarnya yang aku lihat darinya. parahnya, aku masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihannya agar tampak di mata mereka. Aku hanya merasakan cinta begitu besar darinya, begitu besar hingga aku bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeniku. Hal-hal sederhana yang membuat aku merasa sangat bahagia.

Tapi sepuluh tahun kemudian semua terjawab sudah, tentang suamiku yang sangat setia, penuh cinta dan kasih sayang juga pengorbanannya yang maha dasyat. Walau semua jawaban itu datang dari sebuah peristiwa yang sangat menyedihkan saat aku melahirkan anak ketiga. Karena proses melahirkan yang sangat sulit hingga aku mengalami pendarahan hebat yang berujung pada kelumpuhan setelah sebelumnya aku koma selama sebulan lebih.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, suamiku masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji didekatku sambil menggenggam tanganku mesra. Kadang ia membawakan buku-buku kesukaanku ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, “Bangunlah sayang, aku membutuhkanmu,”

Pada hari ketiga puluh tujuh doa suamiku terjawab, aku sadar dan wajah penat suamiku adalah yang pertama ditangkap mataku. Seakan telah begitu lama. Ia menangis, menggenggam tanganku dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Ia membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.

Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawatku selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapiku, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendongku ke teras, melihat senja datang sambil memangku-ku seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta. Ketika malam Ia mendandaniku agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucatku, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin aku selalu merasa cantik. Meski seringkali aku mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi ia dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkanku, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di matanya. Setiap hari Minggu ia mengajak kami sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan aku. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun aku harus ikut. Anak-anak, seperti juga suamiku, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan aku. Selalu begitu selama bertahun-tahun.

Lalu berangsur aku menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-temanku tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik. Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua! ia beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya. Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Dari teras aku menyaksikan anak-anakku bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali akupun ikut tergelak melihat kocak permainan. Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Aku menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk aku yang katanya perempuan luar biasa.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *