Envirochallenge Gerakan Pelajar SMA Jadi Agent of Change Perangi Sampah Plastik

famiele.com, Jakarta – Envirochallenge kembali digelar dengan mengajak 25 sekolah SMA dan sederajat di Jabodetabek, Bandung Metropolitan dan Bali, untuk mengurangi polusi plastik di lingkungan sekolah. Envirochallenge adalah gerakan untuk mendorong siswa SMA dan sederajat untuk membuat inisiatif penyelamatan lingkungan hidup yang dimulai dari lingkup sekolah masing-masing.

Didukung oleh organisasi nirlaba Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) dan United in Diversity (UID), peserta Envirochallenge ditantang untuk menjawab isu seputar penyelamatan lingkungan, terutama polusi plastik, dengan pendekatan Sustainable Development Goals (SDGs). Gerakan ini sejalan dengan indikator SDG nomor 4 (pendidikan berkualitas), 12 (konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab) dan 14 (kehidupan bawah laut).

“Dari data yang kami himpun, konsumsi kantong plastik di Jakarta mencapai 240 – 300 juta lembar per tahun dan perlu diketahui bahwa kantong plastik adalah produk plastik yang paling bermasalah dalam pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, lewat Envirochallenge, GIDKP dan UID menggerakkan pelajar SMA dan sederajat untuk lebih peka terhadap isu polusi plastik dan mendorong para pelajar untuk membuat implementasi program yang inovatif sebagai solusi,” ujar Tiza Mafira, GIDKP.

“UID merasa sangat penting dan mendesak untuk mengajak para remaja untuk mulai memiliki gaya hidup yang bertanggungjawab baik terhadap lingkungan, masyarakat sekitarnya dan juga bagi dirinya sendiri karena merekalah yang akan menjadi pewaris dari seluruh pembangunan yang telah dilakukan bersama. Khususnya tantangan terkait dengan penggunaan plastik ini perlu diselesaikan dari sisi hulunya dengan mendorong REVOLUSI MENTAL para remaja dan sekolah merupakan pintu masuk yang strategis untuk melakukan hal ini, mengingat jumlah sekolah tingkat atas dan setaranya adalah mencapai 36 ribu sekolah dengan total jumlah siswa yang mencapai jutaan anak didik,” kata Cokorda Istri Dewi, Executive Vice President, United in Diversity.

Di tahun 2016 hingga 2017, upaya sekolah peserta Envirochallenge untuk mengelola sampah plastik telah menunjukkan hasil yang signifikan. Yang lebih menarik, upaya ini telah berhasil menurunkan penggunaan plastik sebanyak 70% di lingkungan sekolah yang ikut berpartisipasi. Beberapa kantin telah menyediakan piring, mangkuk dan gelas yang dapat digunakan kembali. Ada juga sekolah peserta Envirochallenge yang telah mengganti busa polystyrene yang digunakan di laboratorium untuk membuat alat peraga dan mock up serta menyediakan dispenser air minum di setiap kelas.

Envirochallenge terdiri dari serangkaian kegiatan. Pada tahap awal, diadakan sesi school workshop yang berlangsung selama tiga minggu, dari Agustus hingga September 2018. Peserta dari 25 sekolah diberikan materi-materi penting mengenai isu lingkungan, aktivasi media sosial dan bagaimana cara membuat proposal dengan konsep logical framework analysis, impact model canvas dan theory of change. Organisasi-organisasi yang terlibat sebagai mentor yaitu GIDKP, UID serta mitra-mitra lokal seperti Sea Soldier dan IAAS Local Committee Universitas Padjadjaran. Selanjutnya, mereka diberikan tugas untuk merancang sebuah program lingkungan yang harus diimplementasikan di sekolah mereka.

Setelah school workshop, 10 sekolah dengan proposal terbaik berhak menghadiri sesi coaching yang dilaksanakan selama dua hari dan difasilitasi oleh GIDKP dan UID di Jakarta pada 26-27 September 2018. Hari pertama para peserta melakukan sensing journey ke Bank Sampah. Hari kedua mereka memaparkan program dan bagaimana proses implementasi tindakan untuk mengurangi polusi plastik di sekolah masing-masing. Setelah sesi coaching, baru mereka diberi waktu untuk mengimplementasikan program lingkungan rancangan mereka.

“Kegiatan Envirochallenge tidak berhenti sampai disini saja. Setelah sesi coaching, 10 sekolah ini akan diberikan waktu selama 3 bulan untuk mengimplementasikan programnya di sekolah masing-masing. Mereka akan mendapatkan pendampingan dari mentor GIDKP dan UID. Kegiatan ini ditujukan untuk melihat perkembangan implementasi program, membantu jika peserta menemui tantangan dalam pelaksanaan dan membantu penyusunan laporan akhir program di sekolah masing-masing,” tutup Tiza.

10 sekolah terpilih akan mendapatkan dana sebesar Rp 5 juta. Pada bulan Desember nanti, para mentor dan juri akan mengumumkan 3 sekolah terbaik yang layak mendapatkan dana tambahan sebesar Rp 2,5 juta untuk penerapan inovasi yang berkelanjutan.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *