InspireProfile

Evan Dimas, Rela Berkorban Demi Kesuksesan

famiele.com – Mendambakan sebuah kesuksesan tanpa adanya pengorbanan mungkin terasa mustahil, hal itulah yang dirasakan banyak orang yang telah meraih kesuksesan termasuk yang terjadi pada pesepak bola nasional Evan Dimas Darmono.

Disela-sela kesibukannya saat menjadi narasumber di acara Biskuat Academy 2019 yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu, anak dari pasangan Condro Darmono dan Ana Darmono ini bercerita tentang perjalanan berliku karirnya menjadi pesepakbola profesional.

Perjalanan karir pesepakbola yang lahir di Surabaya, 13 Maret 1995 ini terbilang penuh liku, rintangan dan hambatan, salah satunya datang dari sang ibu yang sempat melarang anaknya berkarir di cabang olahraga sepakbola. menurut Evan Sang Ibu takut anaknya didera cedera akibat sering terjatuh saat bermain bola.

Anak pertama dari empat bersaudara ini mengenal sepakbola sejak usianya masih 4 tahun. Hingga saat ini Evan telah meraih banyak prestasi bersama klub di berbagai kompetisi maupun bersama Tim Nasional Indonesia baik di Tim yunior maupun Senior.

Namun dibalik kesuksesannya, ia juga pernah beberapa kali mengalami kegagalan. Evan bahkan sempat dua kali gagal seleksi. Kegagalan tersebut  sempat membuatnya putus asa, tapi keputusasaan Evan tidak berlangsung lama, karena sang Bunda yang awalnya melarang justru berbalik mendukung keinginan Evan untuk menekuni sepakbola, sehingga ia bisa kembali bangkit.

Evan juga mengaku harus banyak berkorban demi kesuksesan yang ingin ia raih, ia rela mengorbankan masa remajanya, “Saya memang tidak bisa seperti anak-anak muda lainnya, yang bisa nongkrong atau begadang kapan saja, terkadang iri  ingin seperti mereka tapi ya ga bisa, saya harus jaga pola tidur dan juga pola makan agar tubuh saya tetap bugar dan sehat,” ujar Evan.

Evan juga mengaku pernah menomorduakan pendidikannya saat masih bersekolah, namun sekarang ia menyesal, “Saya dulu berfikir sekolah nomor dua, yang penting jadi pemain sepakbola, tapi saat saya terpilih berlatih di Barcelona cuma saya sendiri yang tak bisa bahasa inggris, jadi pendidikan dan sepakbola harus seimbang, mudah-mudahan teman-teman bisa belajar dari pengalaman saya ini,” ujarnya.

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close