Hanya Ingin Kau Bahagia

Terpenjara dalam kesulitan, hanya bisa mengeluh dan mengeram kesal akan nasib yang tak pernah diinginkan, malah hadir memenjarakan diri. Membuat air mata mengalir dengan mudah, membuat nafas sesak seketika dan membuat rasa takut menyelimuti seluruh rasa.
Pada siapa harusnya menyandarkan kepala saat beban tengah meluap? Pada siapa seharusnya meminta bantuan jika bukan pada Tuhan. Tapi, bukankah Dia pula yang memberi ujian? Terkadang Iblis dengan bebasnya merasuki diri, hingga rasanya selalu ingin berteriak dengan cepat, menghadap langit dengan air mata yang membasahi pipi.

“Ini tidak adil! Mereka yang tak mengingat-Mu bahkan tak pernah kau beri kesulitan, tapi mengapa kami yang hampir setiap waktu menghabiskan waktu hanya untuk menyebutkan nama-Mu malah seperti ini? Sulit dan selalu sulit, apakah MISKIN adalah suratan takdirku yang tak pernah mampu berubah?”

“Astagfirullah,” dengan segera gadis dengan penutup kepala itu tertunduk, memeluk lututnya. Ya, sepertinya ia benar-benar tengah terpuruk.

“Jangan pernah berfikir bahwa Tuhan tak pernah adil pada hamba-hamba Nya Zahra, anakku,” bisik suara lembut yang kini mengambil alih tubuh mungil gadis 17 tahun yang bernama Zahra kedalam dekapannya.

“Bapak,” lirih Zahra masih dalam tangisnya.

Pria paruh baya itu tersenyum memandang langit gelap bertabur kemerlap yang memberi kesan indah diatas sana. Ia membelai lembut kepala sang putri kesayangannya dengan penuh kasih sayang. Namun disisi lain Zahra semakin menahan tangisnya, ia menggigit keras bibir bawahnya hingga memerah.

“Menangislah, setidaknya Tuhan tidak melarang hamba-Nya untuk menangis,” bisik sang ayah.
“Zahra cuma mau bahagian Bapak, Ibu dan adik-adik Zahra pak, Zahra cuma gak mau Bapak kerja keras terus, biar Zahra aja kali ini!” rintih gadis itu masih disudut ruangan dalam pelukan sang Ayah.

Entah hanya perasaan Zahra atau bukan, pelukan sang Ayah semakin mengerat, seakan tengah membagi suatu energy pada diri Zahra. Menyadari akan hal itu, Zahra segera membalas pelukan sang Ayah, dan lagi lagi tangis itu semakin memecah.

“Bapak mengerti kamu sudah besar Zahra, tapi selama kamu masih hidup bersama Bapak dan Ibu, kamu adalah tanggung jawab kami, tugasmu hanya belajar dan tunjukkan hasil yang memuaskan pada Bapak dan Ibu, masalah keuangan kau belum wajib, kau baru saja melepas seragam sekolahmu nak, tak semudah itu Bapak membiarkanmu bersusah payah untuk kami, kamu dan adik-adik adalah tanggung jawab Bapak,” bisik sang Ayah.

“Lalu sampai kapan? Keuangan keluarga kita tak pernah stabil Pak, Zahra takut adik-adik Zahra gak lanjut sekolah, Zahra takut Bapak capek, apa emang takdir kita begini sampai akhir nanti? Susah dan terus susah?” luap Zahra.

Seakan tertohok perkataan sang Putri, kini sang Ayah melamun dan mencoba berfikir. Entah apa yang tengah menggelayuti pikirannya, air mata sang Ayah pun kembali jatuh.

“Bapak, ingin kamu kuliah Zahra, seperti semua temanmu, Bapak tau, itu cita-citamu setelah lulus kan?” jawab sang Ayah menahan tangis.

“Kuliah? Otak dangkal kayak Zahra gak akan bisa kuliah, Beasiswa gak lulus, SNMPTN juga gak lulus, mending kerja daripada bayar kuliah,” sahut Zahra cepat.

“Maaf, seharusnya Zahra memiliki sedikit kelebihan dalam pelajaran, seharusnya Zahra membantu Bapak dalam meraih Beasiswa kuliah tapi, nilai Zahra cuma indah di rapot pak, maafin Zahra,” sambung Zahra kembali bersandar pada sudut dinding ruangan.

Decitan pintu kamar Zahra kembali terdengar, sosok wanita paruh baya dengan daster rumahan yang membalutnya kini tengah tersenyum memandang dua sosok berharga dalam hidupnya. Langkah kakinya semakin mendekat hingga ia memutuskan untuk duduk berhadapan dengan Zahra.

Beberapa helai rambut Zahra yang terlihat, kini tengah kembali dalam balutan kain yang menutupi seluruh rambutnya, belaian jari lembut sang Ibu, membuat Zahra semakin bersemangat untuk mengubah hidup.

“Jangan pernah berkata seperti itu, Tuhan belum menghendaki, karena Tuhan telah menyiapkan hal yang lebih indah dibandingkan dengan Beasiswa atau SNMPTN itu, anak Ibu tidak boleh berkata seperti itu lagi ya,” ucap sang Ibu tersenyum.

“Pak, biarkan Zahra memilih jalannya, kita hanya bertugas mendampingi dan memperingatkannya, jika nalurinya ingin bekerja, Ibu setuju selagi pekerjaan tersebut halal dan membuat Zahra kembali belajar, bagaimana?” sambung sang Ibu.

Dengan segera Zahra menghapus air matanya kasar, memberi pandangan lekat pada sang Ibu juga Ayahnya, cukup menyita waktu yang lama, sang Ayah segera mengangguk tersenyum dan membawa 2 wanita itu dalam pelukan hangatnya.

“Tapi, gunakan gajimu sebagai kebutuhanmu, jangan mengambil alih tanggung jawab Bapak, karena Bapak masih sanggup untuk membiayai kalian, mengerti?” tegas sang Ayah.
“Zahra gak janji Pak~” ledek Zahra.

“Anak nakal hummmmm?” ucap sang Ayah yang mengeratkan pelukannya.

Disisi lain terlihat ke-3 anak kecil dibalik pintu kamar Zahra, mereka tengah tersenyum dan menangis haru, entahlah, mungkin mereka cukup mengerti.

“Jika sudah sebesar ka Zahra, kita harus membantu ka Zahra dan Bapak, kita tunjukkan pada dunia, kita mampu memiliki rumah besar dan mobil mewah untuk Bapak dan Ibu nanti,” ucap seorang anak lelaki berumur 15 tahun.

“Setuju!” sahut gadis 9 tahun dengan boneka Barbie dalam pelukannya.

“ihiihihii! Ka Za….la,” ucap bayi lelaki mungil dalam gendongan sang kakak lelakinya, hingga membuat keduanya tertawa geli.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *