Impian Yang Tak Pernah Terwujud

famiele.com – Aku teringat lagi dengan jejak  masa silam, jejak yang selalu membekas dan meninggalkan hangat dalam detik langkahku. Masih segar dalam ingatan bagaimana aku dan Maya (bukan nama Sebenarnya) bersahabat hingga semua orang menyangka kami terlibat dalam permainan cinta. Jujur saja aku memang mengharapkan tuduhan itu benar-benar menjadi nyata.  Namun aku sadar bahwa itu tak mungkin, karena aku dan Maya berada dalam dunia  yang berbeda.

Dua hari lalu aku kemabali bertemu Maya setelah beberapa tahun Maya berada di Belanda untuk melanjutkan studinya. Ia sudah sangat berbeda kini, yang jelas ia semakin cantik. Ketika bertemu ia kembali menampakan senyum manisnya sambil memperlihatkan sebuah cicin emas yang melingkar di.jari manisnya, “Aku sudah bertunangan Wan…,” dan aku cuma bisa tersenyum getir mendengarnya. Kami sempat berbincang sebentar sebelum Maya akhirnya pamit dan meninggalkanku dalam keheningan jiwa yang teramat dingin

Siang ini aku dikejutkan dengan dering telepon selulerku, diseberang sana kudengar suara maya memintaku menemuinya disebuah tempat yang sangat bersejarah bagi kami. Waktu menunjukan pukul empat sore, ketika aku tiba ditempat dimana biasanya kami sering bertemu. Sebuah gedung sineplex 21 yang begitu banyak menyimpan kenangan manis bersama Maya.

Malam semakin larut, ketika film romantis yang diputar di bioskop ini telah selasai. Kamipun bergegas untuk pulang. Dan suasana romantis dalam film mulai merambat dalam aliran darahku. Seperti biasanya aku mengantarkan Maya untuk pulang ke apartemennya. Kami jadi semakin akrab seperti seorang anak kecil yang tak mau kehilangan mainan yang telah lama hilang, Maya memang telah lama hilang dari kekhidupanku dan sekarang ia muncul kembali.

Masih sempat kulirik jam dinding diruang tamu Maya telah menunjukan pukul 21.20 ketika aku tiba di apartemen miliknya. Dan aku memutuskan untuk segera pulang. Baru saja aku hendak berpamitan saat kudengar suara Maya bertanya, pertanyaan yang tak pernah aku duga, pertanyaan yang dulu sekali pernah kuharapkan, “Wan Pernahkan kamu mencintai aku, Wan aku ingin tahu” Ualngnya lagi. “Untuk apa May,” aku balik bertanya. “Aku hanya sekedar ingin tahu, ayolah Wan Please,” serunya dengan wajah memelas. dan aku tak bisa menjawabnya selain menundukan kepala dan menarik nafas dalam-dalam, tetapi Maya terus memaksaku untuk menjawabnya.

Malam semakin merambat ke titik terkelam, sampai akhirnya aku terpaksa menceritakan yang sebenarnya tentang perasaanku, “Ya, Maya, aku memang pernah mencintaimu, bahkan selalu, selalu mencitaimu hingga saat ini,” lanjutku semakin tak kuasa menahan gejolak hati yang teriris mengingat maya telah dimiliki oleh lelaki lain.

Sunyi keadaan setelah itu. Menit-menit berlalu dan aku tak tahu harus berbuat apa, sementara Maya masih kulihat duduk terdiam sambil menundudukan kepalanya. Namun tiba-tiba ia merangkulku erat sambil menangis, saat itu aku cuma bisa membalas pelukannya sambil mengusap rambutnya yang hitam kelam, mulutku masih terkunci sementara otakku berputar untuk mencari jawaban apa yang sebenarnya terjadi antara kami berdua.

Ditengah-tengah ledakan tangisnya ia masih sempat menuduhku sebagai orang  jahat yang egois, “Wan kenapa baru sekarang kau ungkap perasaan itu, kamu jahat, kamu tahu Wan, betapa setianya aku menyimpan cinta ini untuk kamu, sampai akhirnya aku terpaksa  memberikannya pada orang lain,” serunya lagi sambil sesegukan. Sesak rasanya mendengar kenyataan ini, mendengar Maya mengatakan cintanya kepadaku.

Selanjutnya aku membiarkan Maya bercerita semuanya, bercerita bagaimana ia begitu mengharapkan kata cinta dariku. sampai ia pergi keluar negeri untuk menuntut ilmu. Dan akhirnya menerima cinta Chandra dan belajar mencintainya, karena cinta Chandra adalah kenyataan, sementara cintaku hanyalah sebuah mimpi. Aku saat itu tak tahu lagi harus berbuat apa selain berusaha meredakan tangisnya sampai akhirnya ia bisa tenang dan kami masih tetap saja berpelukan.

Suasana semakin menghanyutkan kami berdua tatkala terdengar lagu merdu dari radio yang berada di pojok ruangan. Selanjutnya kami terbuai dengan apa yang baru kami sadari saat itu. Perasaan cinta yang teramat lama terpendam akhirnya bisa kami satukan walau hanya sesaat.

Mata Maya masih berkaca-kaca, ketika ia kembali berkata, “Wan, mungkin aku memang tak bisa mencintai Chandra sepenuhnya karena aku masih mencintaimu, namun saat ini aku lebih memilih Chadra karena cintanya adalah nyata untukku, sementara kamu hanyalah mimpi indahku. Dan aku tak ingin hidup dalam mimpi, aku butuh kepastian hidup dan kepastian itu sudah aku dapatkan bersama Chandra,” ungkap Maya

“Sudahlah May, aku mengerti apa yang saat ini kamu rasakan, biarlah malam ini menjadi saksi kita bahwa kita masih selalu mencintai, dan itu cukup buatku,” kataku dengan lemah. Maya hanya tertunduk, ia kemudian memintaku merahasiakan apa yang sudah terjadi malam itu. kami memang tak menyesali itu semua, yang kami sesali hanyalah mengapa rasa cinta kami tak pernah terungkap saat kami masih saling sendiri.

Kokok ayam jantan mengiringi langkahku di pagi hari itu. sesaat kemudian walau samar kudengar alunan lagu dari sebuah rumah yang kulewati. Sevia, Tembang cantik milik sheila on 7 itu memberikan bayangan kembali tentang Maya. Kata-katanya selalu terngiang di telinga bahwa ia memerlukan kepastian. Terbayang kembali kisah-kisahku dengan beberapa perempuan yang sempat singgah dihatiku. Jika hingga saat ini aku belum menemukan sesuatu yang kucari dari sosok perempuan yaitu kedamaian, mungkin karena selama ini aku juga tak bisa memberikan sesuatu yang mereka harapkan dariku yaitu kepastian.

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *