Mendukung Si ‘Alpha’ Di Era Kemajuan Teknologi

famiele.com – Beberapa kalangan kerap menyebut anak-anak yang lahir antara tahun 2010 hingga tahun 2025 adalah sebagai generasi alpha yang diramalkan memiliki kecerdasan tinggi hingga melampaui kecerdasan generasi-generasi sebelumnya

Psikolog anak dan keluarga Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd yang hadir di acara peluncuran inovasi baru  S26 Procal Gold dikawasan SCBD Jakarta Selatan, mengatakan bahwa anak-anak Generasi Alpha yang lahir dan besar di era kemajuan teknologi ini akan menghadapi banyak tantangan dan kesempatan di masa depan.

Untuk itu, mereka perlu memiliki kemampuan belajar progresif yaitu kemampuan belajar yang terus berkembang, dimulai dengan membentuk sikap belajar yang baik yang dapat diasah dengan melibatkan anak dan lingkungan.

“Orangtua perlu mendampingi anak mengasah kemampuan belajar progresif agar mereka bisa meraih capaian-capaian penting dalam tumbuh kembang sesuai tahapan usia. kemampuan belajar progresif dibutuhkan untuk membentuk empat karakter anak hebat agar anak bisa meraih kesuksesan di masa depan.” ujar Rosdiana

Karakter-karakter anak hebat yang dimaksud adalah:

• Eksplorasi – Mau menjelajahi berbagai minat.

• Berpikir kritis – Mampu berpikir dengan kritis dan banyak bertanya.

• Jiwa Kepemimpinan – Menjadi pelopor, memberi inspirasi dari diri sendiri lalu kelompoknya.

• Empati – Memahami kebutuhan orang lain agar menciptakan solusi bagi lingkungannya.

Selain stimulasi, bentuk dukungan yang bisa diberikan oleh orangtua adalah dengan menyediakan asupan gizi dimulai sejak awal tahapan kehidupan. Menurut Pakar Neurologi Anak dr Attila Dewanti Sp.A(K), peran gizi sangatlah penting untuk mendukung kemampuan belajar progresif anak-anak Generasi Alpha yang saat ini masih berusia balita.

“Saat anak-anak memperoleh pengalaman baru dari proses belajar, terjadi pembentukan sirkuit baru pada otak mereka, sehingga luas sirkuit yang semula terbatas akan menjadi lebih luas. Asupan gizi yang tepat berguna untuk membentuk dan mematangkan sel-sel otak, sementara stimulasi yang cukup dapat membentuk dan memperkaya jaringan koneksi antar sel,” Ungkap dr. Attila.

Dr. Atilla menambahkan, “Orangtua perlu memperhatikan asupan makanan anak dengan kandungan asam lemak esensial seperti asam linoleat dan asam linolenat yang berguna untuk pembentukan membran sel otak dan tidak dapat dibentuk oleh tubuh secara alami. Selain itu, anak juga memerlukan kolin yang merupakan komponen penting untuk fungsi sinaps otak serta zat besi yang bisa mengoptimalkan metabolisme sel otak.”

Yuma Soerianto, app developer cilik asal Indonesia, adalah salah satu contoh anak yang menjadi hebat dengan belajar. Di usianya yang baru 12 tahun, Yuma telah menciptakan sejumlah aplikasi. Prestasi Yuma tak lepas dari peran kedua orangtuanya yang selalu mendukungnya dari sisi gizi maupun stimulasi untuk belajar menjadi hebat.

“Aku belajar coding sejak usia 6 tahun sehingga aku bisa seperti saat ini. Dimulai dari coding dasar, hingga sekarang aku bisa membuat berbagai aplikasi seperti Kids Calculator untuk membantu teman-temanku belajar matematika. Aku bersyukur, sejak kecil Mama dan Papaku selalu mendukungku untuk mencoba banyak hal baru, berani bertanya, berani menciptakan ide baru serta mau berbagi ilmu dengan anak lain supaya mereka juga bisa coding seperti aku.” Ujar Yuma.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *