Merck Ajak MAsyarakat Waspadai Gejala Tiroid

famiele.com. Jakarta, Memperingati Pekan Kesadaran Tiroid Internasional 2017, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Merck, perusahaan sains dan teknologi terkemuka, serta Laboratorium Prodia kembali mengajak masyarakat untuk mengenali dan memahami gejala gangguan tiroid.

Gejala gangguan tiroid sangat bervariasi dan tidak khas sehingga sering kali hanya dianggap sebagai keluhan akibat gaya hidup serba modern. Hal ini menjadikan gangguan tiroid diabaikan, tidak terdiagnosa sehingga terlambat diobati dan menurunkan kualitas hidup penderita.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI dr. Lily Sriwahyuni Sulistyowati, MM menyatakan, Pada tahun 2015, Indonesia menempati posisi sebagai Negara dengan gangguan tiroid tertinggi di Asia Tenggara berdasarkan hasil riset IMS Health.
Sebanyak 17 juta masyarakat Indonesia mengalami gangguan tiroid. Jumlah ini bisa jadi lebih tinggi karena masih banyak kasus gangguan tiroid yang belum terdiagnosa.

“Pekan Kesadaran Tiroid Internasional 2017 menjadi momen penting bagi kita untuk bersama-sama meningkatkan pemahaman seluruh lapisan masyarakat akan gangguan tiroid. Untuk itu kami menggandeng berbagai pihak untuk melakukan edukasi mengenai gangguan tiroid kepada masyarakat. Bersama Perkumpulan Endorkrinologi Indonesia (PERKENI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pada hari ini kami juga meluncurkan buku saku informasi tiroid untuk masyarakat dan juga panduan terbaru penanganan gangguan tiroid untuk Dokter Umum di Fasiltas Kesehatan tingkat I.”

Evie Yulin, Direktur Biopharma PT Merck Tbk menambahkan, Merck bangga bisa melanjutkan kemitraan dengan Kementerian Kesehatan, para praktisi kesehatan dan juga Laboratorium Prodia dalam Pekan Kesadaran Tiroid Internasional 2017 ini.

Sebagai bagian dari kampanye ITAW 2017, ‘It’s not you. It’s your thyroid’ (Bukan karena Anda, tetapi karena tiroid Anda). Merck mengadakan survei global mengenai tingkat kesadaran gangguan tiroid sekaligus gejalanya pada 6.000-an perempuan di tujuh negara, salah satunya Indonesia. Masih banyak responden yang menggangap tanda-tanda dan gejala gangguan tiroid sebagai gangguan akibat pilihan gaya hidup, sehingga tidak memeriksakan diri.

“Untuk itu kami ingin menyadarkan masyarakat, terutama kaum perempuan yang berisiko lebih tinggi terkena gangguan tiroid, berbagai gejala umum gangguan tiroid yang sering disalahartikan dan diabaikan sebagai akibat kesibukan gaya hidup modern yang serba 24/7.”

“Diharapkan dengan pemahaman yang cukup, masyarakat terutama kaum perempuan dapat lebih waspada dalam mengenali gejala-gejala gangguan tiroid yang mirip dengan gangguan akibat gaya hidup modern, dan tidak mengabaikan gejala yang terlihat sepele sekalipun. Segera periksakan diri dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila mengalami gejala tersebut dan mencurigai adanya gangguan tiroid,” lanjut Evie Yulin.

Reskia Dwi Lestari, Marketing Communications Manager PT Prodia Widyahusada Tbk mengatakan, “Laboratorium klinik Prodia menaruh perhatian besar terhadap penyakit tiroid yang jika hanya melihat gejala klinis saja dapat terjadi kesalahan diagnosis penyakit tiroid sebagai kondisi lain misalnya hiperlipidemia, ketidakteraturan menstruasi, menopause, atau depresi. Prodia menyediakan pemeriksaan TSHs dan FT4 yang merupakan pilihan optimal untuk menentukan status tiroid tahap awal dan membantu diagnosis gangguan fungsi tiroid yang lebih baik sehingga penanganan menjadi tepat sasaran.”

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *