Pelaminan, Menjadi Saksi Bisu Penghianatannya

famiele.com – Namaku Rina (nama samaran), usiku saat ini 28 tahun. Aku memiliki kisah yang mungkin orang lain juga pernah mengalaminya, tapi mungkin mereka tak mau menceritakan ini pada siapapun karena mungkin merasa malu menceritakan aib diri sendiri. Aku sengaja bercerita tantang kisah ini, selain bisa sedkit membuat hatiku merasa lega, pengalaman ini mungkin bisa dijadikan pelajaran untuk kaumku agar lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan dengan orang yang kita tidak tahu asal-usulnya.

Pengalaman pahitku ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Kejadiannya berawal dari perkenalanku dengan laki-laki bernama Agus (bukan nama sebenarnya) yang mengaku tengah mencari lokasi untuk melakukan penelitian terkait tugas akhirnya sebagai seorang mahasiswa. Apa yang dikatakan Agus memang begitu meyakinkan, dari tutur katanya, sikap dan perlakuannya terhadapku membuat aku terpesona. Apalagi dihadapan keluargaku Agus mengaku tertarik denganku.

Selama dua bulan lebih, Agus bolak-balik Jakarta-Sukabumi hanya untuk menemui aku. sebenarnya aku merasa bingung, karena selama dua bulan itu aku tak pernah melihat Agus melakukan penelitian seperti yang pernah diutarakannya kepadaku. Setiap aku tanya ia selalu memberikan alasan yang yang membuat aku sangat percaya. Dia bilang, ia masih harus mempersiapkan surat pengajuannya di kampus dan surat itu belum diperolehnya.  Perempuan kampung seperti aku memang sangat tidak mengerti untuk urusan seperti, jadinya aku percaya saja dengan ucapannya.

Selama kurun waktu dua bulan itu pula, Agus selalu saja membuat aku merasa tersanjung dan bahagia, karena selain ia mengaku terarik denganku ia juga berjanji akan menikahiku selepas ia lulus dari pendidikannya. Perempuan desa mana sih yang tak bergembira mendapatkan seorang laki-laki dengan status seperti Agus, selain lumayan ganteng, di mataku Agus juga merupakan sosok laki-laki dambaan.

Sampai pada suatu saat ia mengutarakan keinginannya bahwa dua hari kedepan ia akan segera melamarku. Bukan main gembiranya hati ini, apalagi Agus mengutarakan hal tersebut di hadapan keluargaku. Malam itu sepertinya menjadi malam paling indah sepanjang hidupku, mungkin karena kegembiaraanku itu aku jadi sedikit lengah saat aku membiarkan tangan dan mulutnya menggerayangi tubuhku. Tapi untunglah aku keburu sadar dan tak memberikan kesempatan kepada Agus untuk berbuat lebih jauh. Ia hanya sempat  ‘mendapatkan’ bagian atas tubuhku saja.

Dua hari kemudian, keluarga Agus memang datang, tetapi bukan orang tuanya. Agus mengaku bahwa yang datang tersebut adalah keluarga kakak sulungnya. Singkat cerita, kami semua bersepakat untuk menentukan tanggal pernikahan, waktunya sekitar dua bulan mendatang. Sekali lagi aku merasakan kebahagiaan, namun kali ini aku lebih bisa mengendalikan perasaan hingga Agus tak sempat mengulangi perbuatannya untuk mencumbui aku.

Selama menungu pernikahan itu, Agus semakin sering datang ke rumah, bahkan tak jarang menginap. Karena percaya dengan Agus, orang tuaku tak pernah melarang Agus untuk menginap. Disaat-saat itulah Agus jadi memiliki banyak kesempatan untuk mencoba menggoda aku dengan rayuan-rayuannya. Dan akhirnya aku terlena dan mau menyerahkan sepenuhnnya kehangatan tubuhku untuk ia nikmati.

Penyesalan memang selalu datang belakangan, tapi aku mencoba memahami apa yang sudah terjadi. Dalam pikiranku, toh Agus akan segera menikahiku, malam pertama cuma sekedar menunggu waktu, sekarang ataupun dua bulan kemudian akan terasa sama, demikian aku kembali mengingat kata-kata Agus sebelum ia berhasil membobol pertahananku.

Dua bulan kemudian persiapan pernikahan sudah digelar. Pagi-pagi sekali dengan keyakinan yang membara aku sudah duduk di ruang tamu dimana tempat akad pernikahan akan dilangsungkan, aku memang sudah tak sabar menunggu hari itu. Tak berapa lama lama kemudian penghulu telah pula datang, tinggal menunggu mempelai pria yang akan datang dari Jakarta.

Saat itu aku merasakan waktu sepertinya bergerak begitu cepat, karena jadwal akad nikah yang telah disepakati telah terlewat, namun Agus dan keluarganya belum juga muncul. Aku mulai merasakan kegelisahan, demikian juga dengan keluargaku. Sampai waktu menunjukan jam satu siang orang yang kami tunggu tak tampak batang hidungnya, samapi akhirnya penghulu pamit dan berjanji untuk datang kembali dua jam kemudian.

Namun sampai penghulu telah datang kembali, Agus belum juga muncul. Matahari telah melewati batas terbitnya, siang telah berganti malam. Aku yang sudah berpakaian lengkap masih saja duduk termenung di pelaminan. Masih terngiang di telingaku suara Agus yang berjanji untuk menikahiku yang ternyata hanya tipu daya belaka. Harusnya saat itu aku tengah menerima banyak ucapan selamat atas pernikahanku, namun kenyataannya yang datang justru ucapan turut prihatin atas apa yang menimpaku saat itu.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *