Perahu Kertas

“Kau sudah pulang Rin-ah?” tanya seorang namja dengan paras dari negeri asalnya, China.

Sedangkan yeoja kecil yang di sapanya hanya mengacuhkannya dan segera melangkahkan kaki mungilnya memasuki ruangan bernuansa merah muda miliknya.

Namja itu pun segera menatap Shin Rin Rin heran yang kembali dari sekolah tak seperti hari-hari kemarin yang sangat terlihat bahagia.

Kedua pasang mata suami istri itu pun bertemu, Han Geng segera menatap istrinya seakan mengisyaratkan sesuatu.

Dengan cepat, yeoja dengan tubuh jenjang itu segera tersenyum dan menggerakkan kepalanya seakan meminta Han Geng untuk menemui putri tunggalnya.

“Kau tak ikut?” tanyanya sambil menghampiri Sung Sang Jae, yeoja berdarah Korea-China yang membuat Han Geng tergila-gila.

“Ini tugasmu sebagai Appa, aku akan memasakkan masakan istimewa setelah kau berhasil membuatnya tersenyum,” jawab Sang Jae tersenyum sambil menggerakkan spatula ke arah wajah tampan nan menggoda milik suaminya.

“Ah, baiklah, aku akan segera membawanya ke meja makan!” jawab Han Geng bersemangat.

Rin Rin Room’s

Ckrekkkkk

Yeoja berusia 10 tahun itu segera mengusap wajahnya kasar, dan mencoba mengarahkan pandangannya pada objek yang kini tengah mendekatinya.

“Appa?” tanya Rin Rin mencoba tersenyum dengan bibir yang terletak tepat di tengah kedua pipi penuh nan menggemaskan miliknya.

“Ada apa? Mengapa pulang tak memberi salam pada Eomma dan Appa? Itu tidak sopan chagiya,” ucap Han Geng membuka pembicaraan.

“Mianhe Rin Rin hanya ingin segera ke kamar,” jawab Rin Rin yang kini memeluk tubuh atletis milik sang Appa.

Sambil tersenyum dengan senyum sejuknya, Han Geng membalas pelukan hangat dari buah hatinya, sambil mengusap kepala mungil Rin Rin dengan balutan rambut hitam sebahunya.

“Appa, aku tidak lolos audisi menjadi seorang Cinderella di teater sekolah aku ingin sekali ikut namun Jung seongsanim tak menerimaku, huh aku tak akan ikut teater lagi!” isak Rin Rin yang kini menangis dan tak melepaskan pelukan dari tubuh Appanya.

Mendengar Rin Rin mengatakannya, relung hati Han Geng pun terasa lega. Setidaknya ia kini merasa di percaya untuk mendengar cerita buah hatinya.

“Chankaman,” jawab Han Geng yang kini menuju meja belajar Rin Rin.

Rin Rin hanya menatap Appanya heran, ia pun menghapus air matanya lembut dengan sapu tangan merah jambu buatan tangan sang Eomma yang selalu berada dalam genggamannya.

Han Geng pun kembali membawa selembar kertas putih nan bersih, melipatnya dengan cepat sehingga menjadi sebuah perhu kertas yang terlihat umum.

“Perahu itu untuk menghiburku agar tidak menagis lagi? Appa aku tak butuh kertas itu!” ucap Rin Rin ketus.

“Aniya, sekarang ikut Appa,” ajak Han Geng yang kini menggendong Rin Rin.

Appa dan anak itu pun segera terduduk tepat di pinggir kolam renang belakang rumahnya, namja salah satu member Boyband legendaris itu pun segera meletakkan perahu kertas putih tepat di genangan air kolam.

“Lihat lah, perahu itu berjalan mengkuti arus air bukan?” tanya Han Geng yang masih memperhatikan perahu kertas tersebut.

Rin Rin pun mengangguk bingung, ia masih tak mengerti apa maksud Appanya mengajak bermain perahu kertas saat ini.

“Masa kau kalah dengan perahu kertas itu?” tanya Han Geng meledek.

“Kalah?” tanya Rin Rin heran.

Dengan segera Han Geng mencoba membuat sedikit ombak untuk perahu tersebut, lalu membuat efek hujan tepat di atas perahu kertas tersebut.

Bahkan membuat air kolam yang berawal tenang kini terlihat sangat menyeramkan, untuk perahu kertas tersebut.

“Huaaa Appa jangan nanti perhunya tenggelam!” cegah Rin Rin menahan tangan sang Appa.

Han Geng pun tersenyum, dan mulai kembali duduk tepat di samping putrinya, namun kali ini ia membawa Rin Rin dalam pangkuannya.

“Perahu itu hanya terbuat dari kertas putih yang tipis rapuh dan mudah sobek, namun sampai sekarang meski Appa membuat ombak dan memberikan percikan air dari jari Appa ia masih tetap tak tenggelam, bagaimana jika ia di letakkan di aliran sungai?” jelas Han Geng.

“Ne Appa, kertas itu sangat rapuh dan lihat lah kertasnya sebentar lagi akan sobek, tersentuh sedikit saja Rin Rin yakin ia akan rusak,” sambung Rin Rin.

“Nah, tapi perahu itu masih bertahan bukan? Padahal ia hanya sebuah kertas rapuh,” jawab Han Geng.

Rin Rin pun mengangguk bangga menatap perahu kertas buatan Appanya.

“Kau harus seperti perahu kertas itu, kuat dan tak mudah rapuh meski banyak rintangan yang memaksanya tenggelam dan tak mampu lagi berlayar,” jelas Han Geng mulai menatap Rin Rin.

“Rin Rin kan manusia Appa, Rin Rin tentunya lebih kuat jika harus berada di kolam renang,” jawab Rin Rin.

“Nah, kau tau kau lebih kuat darinya maka itu kau tak boleh menyerah hanya karena Jung seongsanim belum memberimu kesempatan, jika kau menyerah dan tak akan mengikuti teater yang adalah hobimu berarti anak Appa kalah dari sebuah perhu kertas…” ucap Han Geng.

“Eh? Masa begitu Appa? Aku lebih kuat darinya!” bela Rin Rin mencubit pipi sang Appa kesal.

“Appo chagi, memang begitu jika kau menyerah dalam hidupmu Appa malu memiliki anak yang kalah dari sebuah perahu kertas,” ledek Han Geng.

Dengan cepat Rin Rin berdiri setelah sejenak mencerna ucapan sang Appa, yang kini membuatnya merasa malu pada sebuah perahu kertas yang rapuh.

“Appa dengar, aku akan memiliki tekat seperti perahu kertas, aku akan memliki semangat sepertinya, terus melawan rintangan meski perahunya akan segera tenggelam, aku akan membawa Appa dan Eomma mencapai cita-citaku aku akan mengalahkan perahu itu dan membuat Appa dan Eomma bangga memiliki anak sepertiku!” jelas Rin Rin membuat Han Geng terkekeh bangga.

“Jadi kau akan tetap di klub teater?” tanya sang Appa bangga.

“Ne! Aku akan tetap di klub teater dan aku akan menunjukkan pada Jung seongsanim aku mampu karena aku lebih hebat dari sebuah perahu kertas,” jawab Rin Rin bahagia.

Han Geng pun kembali membawa Rin Rin dalam pangkuannya, mencium lembut kedua pipi penuh Rin Rin gemas.

“Kau lebih kuat dari perahu kertas itu, dan karena kau lebih kuat darinya, kau akan melebihi semangat sebuah perahu kertas, karena kau lebih kuat darinya chagi, tunjukkan pada Appa ne?” pinta Han Geng tersenyum.

“Aku akan menunjukkan padanya, bahwa aku lebih kuat darinya, aku akan terus menajalankan perahuku hingga tepat pada titik tujuanku! Kau tak akan lebih dariku perahu kertas,” ledek Rin Rin yang kini menjulurkan lidah pendeknya pada perahu kertas yang masih di kolam renang.

“Jja kita tinggalkan dia kita temui Eomma yang berjanji akan membuat makanan enak!” ajak Han Geng mengangkat Rin Rin yang kini terduduk pada pundaknya.

“Hummmm aromanya sudah tercium Appa,” jawab Rin Rin.

“Eomma kami datang!” teriak Han Geng dan Rin Rin bersamaan.

END

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *