PFIZER Dorong Upaya Implementasi PPRA Melalui 5 Cara

famiele.com, Jakarta – Menyambut Pekan Kesadaran Antibiotik Dunia pada 12–18 November 2018 yang mengusung tema “Change can’t wait. Our time with antibiotics is running out”, PT Pfizer Indonesia (Pfizer) bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) dan RS Universitas Indonesia, menegaskan kembali perlunya komitmen bersama dalam mengimplementasikan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) di Indonesia.

Komitmen terhadap pelaksanaan PPRA sangat penting untuk membantu mencegah dan memerangi ancaman kesehatan masyarakat global akibat resistensi antibiotik atau antimicrobial resistance, (AMR)

Resistensi antibiotik disebabkan karena bakteri tidak lagi dapat dimatikan dengan antibiotik, sehingga mengancam kemampuan tubuh dalam melawan penyakit infeksi. Akibatnya dapat mengakibatkan kecacatan bahkan kematian. Jika jumlah bakteri resisten antibiotik semakin banyak, ragam prosedur medis seperti transplantasi organ, kemoterapi, pengobatan diabetes, dan operasi besar menjadi sangat berisiko. Efek dari kondisi ini, pasien harus menanggung perawatan yang lebih lama dan mahal.

Resistensi antibiotik saat ini bertanggung jawab atas 700 ribu kematian di seluruh dunia1. Para ahli kesehatan, termasuk organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), setuju bahwa jika tidak ada tindakan yang diambil, AMR diperkirakan akan mengakibatan sekitar 10 juta kematian secara global setiap tahun pada tahun 2050.

Pfizer sebagai produsen obat-obatan terkemuka di dunia, termasuk obat-obatan anti infeksi, mendorong implementasi program pengendalian resistensi antibiotik secara menyeluruh dan berkelanjutan. Pfizer sendiri memiliki komitmen untuk bekerja erat dengan komunitas kesehatan dalam menangani resistensi antibiotik melalui lima cara yaitu:

  1. Penatalayanan aktif untuk mendukung upaya pendidikan bagi para tenaga kesehatan profesional dan masyarakat umum
  2. Inovasi alat pengawasan resistensi yang efektif, seperti Antimicrobial Testing Leadership and Surveillance (ATLAS) database. Inovasi ini memungkinkan dokter dan komunitas kesehatan global mendapat akses gratis ke database penting tentang keampuhan berbagai perawatan antibiotik dan pola resistensi yang muncul di lebih dari 70 negara.
  3. Kebijakan global untuk memfasilitasi pengembangan antibiotik dan vaksin, akses dan penggunaan yang tepat, dan bermitra dengan pemerintah dan organisasi kesehatan untuk menangani AMR.
  4. Memperluas portofolio obat-obatan anti-infektif dan vaksin untuk membantu mengobati dan mencegah infeksi serius di seluruh dunia
  5. Menerapkan praktik manufaktur yang bertanggung jawab yang meminimalkan dampak terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

“Di Pfizer, kami didorong oleh komitmen untuk melindungi kesehatan masyarakat dan untuk menjawab kebutuhan pengobatan para pasien yang menderita akibat penyakit infeksi” kata Handoko Santoso, Medical Director, Pfizer Indonesia. “Kami berharap untuk dapat terus bekerja sama secara erat dengan pemerintah, pembuat kebijakan dan komunitas kesehatan untuk mengembangkan solusi dan berbagi sumber daya untuk membantu mengurangi dampak global resistensi antibiotik.”

Selain upaya yang dilakukan oleh komunitas kesehatan, ada berbagai hal yang dapat dilakukan masyarakat setiap hari untuk membantu mencegah perkembangan dan mengurangi penyebaran resistensi antibiotik. Diantaranya, tidak membeli sendiri antibiotik tanpa resep dokter.

Jika diberikan resep antibiotik, pastikan untuk mengunakannya sesuai dosis yang diinstruksikan dokter. Selesaikan program pengobatan, jangan lewatkan dosis apa pun, dan jangan minum obat yang diresepkan untuk orang lain. Lakukan vaksinasi secara berkala untuk mengurangi kemungkinan terkena infeksi yang perlu diobati dengan antibiotik.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *