Pola Aktivitas Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Mengacu pada temuan studi multisenter South East Asian Nutrition Survey (SEANUTS) yang dilakukan oleh Friesland Campina melaui Frisian Flag Indonesia pada tahun 2012 lalu mengenai pola aktifitas anak Indonesia menemukan bahwa tingkat keaktifan fisik anak Indonesia cenderung rendah.

Rendahnya keaktifan fisk anak Indonesia tak lepas dari kemajuan peradaban dan tekhnologi yang semakin modern dimana anak lebih cenderung memanfaatkan tekhnologi modern seperti televisi, computer serta gadget sebagai sarana beraktifitas dibanding melakukan aktifitas gerak.

Jurnal Gizi Indonesia mengenai data SEANUTS mengenai pola aktivitas anak menemukan bahwa lebih dari separuh anak Indonesia dianggap tidak aktif. Hal ini didasari atas jumlah langkah yang dilakukan sehari-hari, dimana anak laki-laki berjalan kurang dari 15.000 langkah setiap hari, dan anak perempuan berjalan kurang dari 12.000 langkah setiap hari.

Fakta ini sejalan dengan meningkatnya persentase anak yang mendapat paparan TV dan komputer, dimana sebanyak 55,2% anak menghabiskan waktunya menonton televisi, bermain komputer ataupun game lebih dari 2 jam setiap harinya.

”Penelitian mengenai pola aktivitas anak Indonesia juga memperlihatkan bahwa anak-anak yang dianggap kurang gerak (sedentary) lebih banyak berasal dari keluarga berpenghasilan lebih tinggi. Hal ini dikarenakan orang tua mereka memiliki kemampuan material yang cukup baik untuk menyediakan fasilitas TV, komputer maupun game di rumah,” ungkap Dr. Ir. Heryudarini Harahap M.Kes, peneliti ahli dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI).

Kondisi kurang gerak serta asupan gizi yang kurang memadai, diyakini memiliki kontribusi atas kurang optimalnya tumbuh kembang anak. “Sejak usia di atas satu tahun hingga remaja, anak diharapkan untuk dapat bergerak aktif guna mengoptimalkan pertumbuhannya,” dr. M.F. Conny Tanjung, SpA (K),

Namun demikian dr. M.F. Conny Tanjung, SpA (K), juga mengingatkan bahwa untuk menunjang hal tersebut, sangatlah penting bagi mereka mendapatkan asupan makanan dengan gizi yang sesuai, yang di dalamnya terkandung kecukupan kalori, kalsium, protein, dan nutrisi lainnya, sebagai supply energy.

“Anak juga membutuhkan tulang yang kuat dalam beraktifitas, dan dalam hal ini, asupan kalsium dan vitamin D akan berperan sebagai zat penunjang kekuatan tulang, yang pertumbuhan optimalnya akan dicapai ketika anak bergerak aktif dan terpapar sinar matahari,” tambahnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *