Psikopat, Kisah Horor Pembunuhan di Villa Puncak

famiele.com – Film Indonesia belakangan marak dengan genre horor. Setelah The Doll 2, kini industri film Tanah Air bakal diramaikan dengan hadirnya film horor berbalut bumbu psikologi bertajuk ‘Psikopat’.

Film produksi Citra Visual Sinema dan dibesut sutradara Ekadi Katili dan Jito Banyu ini bakal tayang di bioskop tanah Air, mulai 27 Juli lalu.

Cerita film ini murni fiksi, namun akan terasa nyata karena dekat dengan keseharian anak muda masa kini. Film bertutur tentang kehidupan anak band yang identik dengan ketenaran dan glamoritas, sekaligus menyimpan sisi gelap.

“Selain mengulas tentang hubungan percintaan, ada hal tak terduga dan mengundang penasaran,” ujar Duke Rachmat, sang produser Psikopat di sela-sela acara press screening media di Jakarta, akhir pekan lalu.

Psikopat mengurai kisah anak band, Exel (diperankan Aga Dirgantara) bersama manajernya, Randi (Iqbal Perdana), Alisya (Marsya Doeni), Chrissy (Kezia Karamoy), Gigih (Idon Juan). Berawal dari kejenuhan Exel manggung, dia memutuskan berlibur sejenak di vila Randi, membawa serta Alisya, Chrissy dan Gigih tanpa sepengetahuan Randi.

Selama di vila yang berlokasi di Puncak, Jawa Barat, empat sekawan ini diteror dengan munculnya penampakan wanita berambut panjang yang menuntut balas atas kematiannya yang tidak wajar.

Kemunculan hantu berambut panjang ini, Lara (Baby Margaretha) menjadi pembuka serangkaian pembunuhan berantai yang dilakukan oleh seseorang dan mayat sejumlah perempuan disembunyikan di salah satu ruang bawah tanah vila tersebut.

Selain Lara, pacar Randi, yaitu Gadis (Mila Cheah), ditemukan tewas mengenaskan di depan kue ulang tahun saat hendak merayakan ulang tahun Randi.

Awalnya polisi bingung siapa pembunuh Gadis, karena tidak ada tanda-tanda perampokan. Hingga kamera mengungkap dengan jelas siapa tersangka pembunuh berdarah dingin dan menjadi dalang dari pembunuhan sejumlah wanita lain yang mayatnya disembunyikan di vila.

Mayat perempuan korban pembunuhan itu dijadikan koleksi dan disatukan dalam sebuah ruangan vila, tanpa dikubur. Sepanjang film, kita disuguhi adegan yang dimaksudkan sebagai horor. Sayangnya, eksekusinya kurang manis dan jalan ceritanya agak melompat meski harus diakui ide cerita berlatar belakang psikologis cukup menarik.

Skenario yang ditulis oleh Victor Da Costa, Nonie Pahmi, Fori Desniar, dan Ekadi Katili mestinya bisa lebih kuat jika melibatkan psikolog atau ahli jiwa agar jalan ceritanya lebih kuat.

Kalau boleh jujur, akting sebagian pemain masuk kategori biasa. Namun acungan jempol bolehlah dialamatkan kepada Iqbal Perdana yang memainkan karakter Randi yang rela menjiwai peran ‘all out’ dan berhasil mengungkap sisi gelap sang manajer band. “Saya mendalami peran sebagai Randi selama dua minggu. Banyak baca buku psikologi, juga nonton film-film berbau psikologi, misalnya Hannibal,” kata Iqbal.

Pada akhirnya, film produksi Citra Visual Sinema – yang dikerjakan hanya dalam tempo 3 minggu ini – lebih mirip film rasa FTV. Saya berharap, kali lain rumah produksi yang digawangi suami-istri, Duke Rachmat dan Niken Septikasari, ini akan berkiprah jauh lebih baik lagi.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *