Regenarsi Petani, “Dari Tanah Tani ke Piring Saji”

“Semangkuk bumbu kacang yang tengah saya aduk mulai tiba di konsistensi yang tepat. Kotak-kotak tahu kuning yang lembut dan legit, hasil pelesir singkat ke Bandung kemarin lusa, mengeluarkan uap panas dan wangi gurih minyak goreng. Seraup touge yang baru saya rendam air panas masih lembab di saringan. Timun yang belum lama keluar dari kulkas terasa sejuk di jemari, dagingnya terdengar renyah saat tercacah bilah pisau yang saya ayun cepat”

‘Dee Lestari’

famiele.com, Jakarta – Betapa sebait tulisan Dee Lestari dalam sebuah buku berjudul ‘Dari Tanah Tani ke Piring Saji’ itu menggambarkan bayangan kelezatan yang siap terhidang dan memanjakan rasa dan lidah penikmatnya. Semangkuk bumbu kacang, tahu kuning yang lembut dan legit dengan uap panas dan wangi gurih minyak goreng, taouge serta timun..hmmm yummy..

Tapi pernahkah kita berfikir jika itu semua tidak akan pernah ada jika tidak ada petani yang menanam bahan-bahan dasarnya, ya kelezatan itu tak akan pernah terhidang di piring saji jika para petani tak lagi menanam kacang, kedelai, taouge serta timun yang di racik sedemikian rupa hingga menjadi menu Kupat Tahu yang tersohor itu, tentu dengan tambahan lontong, kecap manis dan kerupuk aci.

Baru-baru ini dalam sebuah press conference yang digelar Kecap Bango menyajikan sebuah data dari Badan Pusat Statistik yang menunjukan turunnya jumlah petani di Indonesia hingga 4 juta petani dalam kurun waktu 2 tahun (2016 – 2018). Salah satu penyebabnya adalah kurangnya regenerasi petani alias berkurangnya kaum muda yang berminat menjadi petani.

65% dari jumlah petani di Indonesia kini berusia di atas 45 tahun, dengan produktivitas yang relatif rendah.  Sementara di wilayah perdesaan, hanya sekitar 4% anak muda berusia 15-23 tahun yang tertarik bekerja menjadi petani, sisanya memilih bekerja di sektor industri, sektor industri kecil-menengah atau sektor informal kota, karena dipandang lebih potensial untuk menjamin kesejahteraan di masa depan.

Hernie Raharja, Director of Foods and Beverages PT Unilever Indonesia Tbk dalam pernyataannya bahkan mengungkapkan kekhawatiran PT Unilever Indonesia Tbk, soal penyusutan jumlah petani dan lahan pertanian serta penurunan produktivitas maupun kualitas hasil pertanian. ” Jika bahan pangan yang berkualitas jumlahnya semakin terbatas, maka akan sulit pula bagi kita untuk terus menikmati dan melestarikan aneka kuliner khas Indonesia yang selalu kita banggakan.” Ujar Hernie

Sejak beberapa tahun lalu pelestarian Kuliner khas Indonesia telah menjadi salah satu fokus utama yang dilakukan Unilever Indonesia lewat Yayasan Unilever Indonesia dan Kecap Bango dengan menggelar beberapa program, salah satunya adalah memberikan binaan terhadap petani kedelai Mallika melalui “Program Pengembangan Petani Kedelai Hitam” yang bekerjasama dengan UGM dan mitra lainya

Tahun ini Unilever Indonesia Tbk kembali menggelar “Program Petani Muda” guna mendorong regenerasi petani dan menjamin ketersediaan pasokan bahan pangan berkualitas dalam jangka panjang. Program yang berkolaborasi dengan The Learning Farm Indonesia ini secara bertahap akan memberikan pembinaan intensif bagi masing-masing 30 hingga 40 petani muda potensial tentang keterampilan hidup lewat pendidikan bercocok tanam yang memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan.

Nona Pooroe Utomo, Executive Director The Learning Farm Indonesia menjelaskan, Bango dan ‘The Learning Farm’ akan bersama-sama mengembangkan kurikulum “Program Petani Muda” untuk mendorong semangat, pengetahuan dan keterampilan generasi muda dalam melanjutkan regenerasi petani.

Selama 100 hari, seluruh peserta akan mendapatkan 60% materi pertanian yang terbagi dalam empat kelompok besar yaitu tanah, budidaya tanaman-perikanan dan ternak, pemupukan dan pengendalian hama, serta analisa usaha tanam. 40% materi lainnya, berfokus pada pengembangan soft skills seperti manajemen waktu dan keuangan, entrepreneurship, healthy life style, Bahasa Inggris, komputer, dan komunikasi.

“Kami harap para peserta akan mampu menyebarluaskan ilmunya dan menginspirasi lebih banyak generasi muda di kampung halaman mereka untuk menjadikan bertani sebagai pilihan profesi yang menjanjikan.” Ujar Nona

Tidak berhenti sampai disitu, Bango juga mengajak seluruh pecinta #KelezatanAsli kuliner Indonesia untuk mendukung program ini melalui Bango kemasan khusus “Cita Mallika”, dimana setiap kemasannya akan berikan pelatihan tani untuk pemuda Indonesia.

Bango kemasan khusus “Cita Mallika” didesain oleh fashion designer kebanggaan Indonesia, Didiet Maulana yang mengunjungi para petami Mallika di Desa Lembah Kulon Progo hingga menghasilkan motif di kemasan khusus bango. Sementara, Dee Lestari yang juga turut mengunjungi para petani Mallika menghasilkan berbagai cerita menarik dan inspiratif dari empat petani kedelai hitam Mallika yang di tuangkan di balik kemasan Kecap Bango. “Secara lengkap  para pecinta kuliner dapat membaca cerita semi-dokumenter ini di www.bango.co.id,” tutur Dewi.

”Melalui program ini, Bango berharap regenerasi petani dapat tercapai karena generasi muda akan memiliki kepercayaan diri dan minat lebih tinggi terhadap profesi bertani. Dengan regenerasi yang terjaga, ketersediaan bahan pangan akan ikut terjamin dan pelestarian #KelezatanAsli kuliner Indonesia dapat terus dilakukan,” tutup Hernie.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *