Selamat Pagi My Diary

Selamat pagi diary ku….

Sudah lama ya aku tak mencoret-coret lembaran putihmu, pagi ini aku mau curhat banyak sama kamu, malam kemarin sama teman-teman gosipku ngomongin suami masing-masing, kamu taukan suamiku seperti apa, terkadang aku malu sama suamiku, soalnya dia beda sama para suami temanku. Bayangin deh minusnya suamiku ini, ia nggak ganteng-ganteng amat, wajahnya biasa saja.

Bukan itu saja, tidak seperti suami temenku yang selalu pergi jalan-jalan saat liburan tiba, suamiku malah ngajak nonton TV di rumah, katanya film di TV juga bagus-bagus dan nggak perlu ngeluarin biaya, karena uangnya bisa ditabung untuk masa depan anak-anak. Padahal aku ingin sekali seperti suami-suami temanku yang sering berpergian keluar kota bahkan keluar negeri untuk berlibur atau berbelanja.

Diary ku…
Kamu juga tahukan, suami aku jarang sekali menemaniku, ia lebih sering berada di kantor dan sibuk dengan pekerjaannya, kalaupun ada di rumah, ia lebih senang beristirahat dan sepertinya tak perduli dengan keadaanku yang selalu sibuk mengurus keadaan rumah. Yang menyebalkan ia jarang sekali memberiku kejutan seperti suami teman-temanku yang penuh romatisme dengan memberikan sekuntum bunga saat akhir pekan tiba.

Saat malam tiba, ia jarang sekali memelukku sekedar untuk menyatakan rasa cinta dan sayangnya padaku, paling-paling cuma kecupan di kening sambil berkata selamat tidur mama. Sementara teman-temanku selalu bercerita tentang suaminya yang selalu memeluk dengan erat, membelai rambut dan mengucapkan kata-kata cinta dan sayang saat menjelang pergi tidur, cerita yang selalu membuatku merasa iri.

Diary ku sayang….
Pagi ini sekali lagi aku merasa kesal. Betapa tidak, hari ini aku berulang tahun, tapi suamiku tercinta tak sedikitpun ingat. Sudah tiga tahun belakangan suamiku tak pernah ingat lagi akan hari spesialku, teman-teman SMU-ku saja masih mengingatnya dan selalu mengirimkan ucapan selamat. Tapi kenapa orang yang paling dekat denganku tidak sempat mengingatnya, “Sudah tak cintakah ia padaku?”

Maaaf ya diaryku sayang, hari ini aku pergi ke rumah Selvi sahabatku untuk menumpahkan segala keluh kesahku, tentang suamiku yang tak lagi perhatian denganku. Tapi kemudian aku terkejut ketika mendapati Selvi tengah menangis dengan wajah yang lebam dibeberapa bagian karena pukulan suaminya. Padahal setahuku Selvi adalah sahabat yang paling sering bercerita tentang suaminya yang setia, yang penyayang, yang sabar, pokoknya serba lebih deh….

Tapi ternyata semuanya semu, penuh kepura-puraan dan munafik. Sahabatku itu memergoki suaminya yang tengah bercinta dengan perempuan lain di rumahnya, di kamar kesayangan, di ranjang temapt ia setiap malam memadu kasih, oh Selvi sungguh malangnya nasibmu, cerita yang selama ini kamu lontarkan ternyata tak sindah warna aslinya.

Diary ku…..
Sejak saat itu aku sadar, bahwa aku memiliki suami yang sabar tanpa kepura-puraan. Dari sekian kekurangannya ternyata ia memiliki segudang kelebihan. Ia memang sederhana dan polos tapi ia jujur, ia memang tak mempesona tetapi ia setia, ia memang tak memberi banyak pilihan, tetapi tanpa kusadari ia telah menghabiskan waktunya untuk hidupku. Membuatkan aku rumah untuk berteduh, memberikan aku ranjang empuk dan hangat untuk tempatku beristirahat. Ya Tuhan betapa bodohnya aku….

Diary ku sayang….
Ternyata selama ini aku tak pernah bersyukur memiliki suami yang demikian baik dan santun, aku terlalu banyak memikirkan hal-hal negative dari pada sisi positifnya. Buktinya malam tadi aku dikejutkan dengan hadirnya sebuah kado berwarna merah jambu di meja riasku, dan sebentuk cincin bermata berlian kudapati dalam kotak itu, sementara suamiku sudah terlelap tidur dengan dasi masih menempel dipakaiannya. Malam itu, aku benar-benar merasa tersanjung, benar-benar merasa sangat beruntung

Diary ku sayang…
Malam itu kupleuk suamiku dengan erat, kubelai rambutnya dengan kasih sayang yang teramat sangat, mengecup bibirnya dengan sejuta sayang. Dan ia terbangun, yang pertama terucap dari mulutnya adalah, “Selamat ulang tahun istriku tercinta, semoga Tuhan menganugerahimu semua yang kau inginkan,”. Aku memeluknya dengan erat, air mataku tumpah tanpa bisa kubendung, “Aku cuma ingin kau selalu bersamaku mas, tak lebih dari itu,”

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *