Si Ganteng dari Pasar Rebo

Membaca cerita lucu yang lalu, terbersit sebuah cerita lucu yang juga pernah aku alami semasa kuliah dulu. Memang bukan aku sendiri yang mengalami, tapi aku ada di lokasi kejadian saat peristiwa itu terjadi.

Aku mempunyai sahabat yang mengidap penyakit langka, forgot syndrom alias pelupa. Penyakit lupanya sering meresahkan teman-teman yang lain, termasuk aku. Pernah ia dibelikan ibunya obat khusus untuk memperkuat daya ingat. Tapi dasar pelupa, jadwal meminum obatnya pun ia tak pernah ingat.

Suatu saat ia jatuh cinta pada seseorang. Masa pacaran berjalan lancar, padahal saya sudah khawatir soal penyakit ‘lupa’nya. Teman saya yang bernama Nancy ini tergolong anak yang ceria dan manja. Maklum dari tiga bersaudara hanya dia perempuan satu-satunya. Karenanya ia kadang lupa kalau ia tengah berhadapan dengan pacarnya bukan saudara-saudaranya.

Aku sering memergokinya sedang bergulingan bercanda dengan pacarnya dan ketika aku tanyakan dia baru ‘ngeh’ kalau saat itu sedang bercanda dengan pacarnya. “Sumpah gue kirain doi Andrei, adik gue,’ sahutnya panik.

Hal lain yang pernah terjadi adalah ia lupa sosok pacarnya. Di satu penghujung sore ketika kami usai kuliah, Nancy memintaku menemaninya menunggu Radit, sang pacar. Aku menyetujui karena memang aku tak banyak kegiatan hari itu.

Suasana di halaman kampus makin gelap, namun Radit tak kunjung muncul. Di samping kami juga ada sekelompok mahasiswa yang sedang duduk-duduk. Tiba-tiba dari arah kampus datang seseorang dengan langkah terburu-buru. Bergegas Nancy bangkit dari duduknya dan menepuk bahu cowok itu dengan hangat. “Radit lama sekali, aku kan capek nunggunya…”

Hening sejenak, Radit tak menyahut malah berdiri kaku di hadapan Nancy. Suasana remang dan lampu halaman kampus belum semua dinyalakan. Ada yang nggak beres, batinku. Aku segera berdiri dan menghampiri Nancy. Belum sempat aku bertindak, Nancy sudah mengucapkan sesuatu yang membuat langkahku berhenti, “Lho bukan? Aku kira…Eh…Mas jam berapa sekarang…hehehe.” Ucapan yang tak beraturan itu menandakan telah terjadi sesuatu dan aku tak ingin membahasnya saat itu, karena tiba-tiba ada yang menggelitik perutku. Aku berlalu sembari sia-sia menahan tawa yang kadung pecah.

Di lain waktu, saat aku, Nancy dan Radit sedang jalan-jalan. Senggang kuliah kami habiskan untuk refreshing. Nancy lagi kepingin ke Taman Mini. Kamipun ngeteng naik angkot. Perjalanan kami melewati perempatan Pasar Rebo. Karena jalanan yang krodit plus trotoar yang dipenuhi pedagang kaki lima, kami harus jalan terpisah. Radit di depan, Nancy dan aku paling belakang.

Ketika jarak Radit dan Nancy makin jauh, dengan spontan Nancy berteriak, “Ganteng…tungguin dong…” Kulihat Radit tak menoleh, hanya memperlambat langkah saja. Sementara Nancy dengan setengah berlari mengejar Radit, mirip film jadul (red: jaman dulu) yang dipenuhi dengan adegan kejar-kejaran di taman.

Bukan berhenti, Radit malah mempercepat langkahnya. Adegan kejar-kejaran itu makin seru dengan teriakan manja Nancy yang tak henti memanggil Radit dengan sebutan ‘ganteng.’ Aku pikir, Radit bukan ingin bermain kejar-kejaran dengan Nancy. Tapi lebih kepada ia ingin segera berlalu dari area Pasar Rebo yang hampir semua pedagang yang memenuhi trotoar itu mencari sosok yang dipanggil ‘ganteng’ itu.

Hasilnya? Setelah melihat tampilan Radit, mereka hanya tersenyum kecil. Radit memang tidak setampan Baim Wong, tak se-macho Adrian Maulana bahkan tak seganteng Nicholas Saputra, tapi dia baik. Itu yang membuat Nancy ‘betah’ pacaran dengannya. Radit adalah cowok yang penampilannya amat sangat biasa, tapi di mata Nancy bisa jadi amat sangat luar biasa.

Jujur aku ingin tertawa melihat kelakuan Nancy itu. Perutku mulai terasa geli. Aku segera berjalan cepat menyusul mereka berdua. Saat berada di sebelah mereka, iseng aku berujar, “Halo ganteng…” Bisa ditebak umpan balik dari Radit. “Rese lo Sa…,” teriaknya sembari melotot. Aku betul-betul tidak bisa menahan tawa.

Sekarang mereka sudah menikah dan dikaruniai seorang putra. Nancy masih sering bersikap konyol dan Radit tetap sering merasa kaget mendapati istrinya tak juga menurunkan kadar kekonyolannya meski sudah pernah melahirkan seorang anak. Lagian tidak ada survey penurunan kadar kekonyolan terhadap ibu yang pernah melahirkan kan?

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *