Surat untuk Calon Suamiku

Ternyata pusing juga ya jika usia sudah menginjak kepala tiga dan belum juga menikah, setiap ada pertemuan keluarga selalu saja soal pernikahan yang dibicarakan. Bayangkan, sudah dua bulan ini tidak ada topik yang lebih trend di rumah, selain soal suami. Mulai dari Papi yang selalu nyindir, sudah pengen menimang cucu. Mami yang berulang-ulang menasihatiku agar jangan terlalu pilih-pilih tebu. Lalu adikku, yang kuharap bisa menetralisir suasana, tak urung ikut menggoda.

Sudah berkali-kali pula mami dan papi menyodorkan dan menawarkan beberapa orang laki-laki untuk menjadi calon suamiku dan semunya itu membuat aku merasa sangat tak nyaman. Aku sebenarnya sudah menjelaskan kepada mereka agar tak terus menyudutkan aku soal pernikahan, bukan karena aku tak siap tetapi karena memang belum ada laki-laki terbaik yang diberikan Allah buat aku.

“Tolong. Jangan menyudutkan aku. Tolong Mami bantu aku agar bisa tetap sabar, tetap tawakkal sama Allah. Kita memang harus berusaha, tapi jangan memaksakan diri. Biar aku mesti nunggu sampai tua, aku siap. Daripada bersuamikan orang yang akhlaknya tidak Islami. Tolong.. Mi…tolong!” Kusaksikan mata Mami berkaca-kaca. Diraihnya aku ke dalam pelukannya. Berdua kami berisakan. Papi turut menghampiri, menepuk-nepuk pundakku. ”Maafin Mami, sayang….” suara Mami lirih, memelukku makin erat.

Dan jika sudah tersudut, buku diarylah yang menjadi sasaranku, hanya dengan cara inilah aku bisa sedikit menenangkan pikiranku. Entah mengapa jari jemariku menulis sesuatu yang sebelumnya belum pernah aku tulis

Kepada Calon Suamiku….

Usiaku hari ini bertambah setahun lagi. Tiga puluh tahun sudah. Alhamdulillah. Kuharap, tahun-tahun yang berlalu, meski memudarkan keremajaanku, namun tidak akan pernah memudarkan ghirah Islamiah yang ada. Mudah-mudahan aku bisa tetap istiqamah di jalan-Nya.

Ujian pasca sarjanaku sudah selesai. Sebentar lagi, satu embel-embel gelar kembali menghiasi namaku. Belum lama ini aku juga mengambil kursus jahit dan memasak. Dengan besar hati pula, Mami mesti mengakui, bahwa kemahirannya di dapur, kini sudah tersaingi.

Alhamdulillah, sekarang aku lebih bisa berkonsentrasi untuk menulis, dan memberikan berbagai ceramah di beberapa kampus dan masjid. Baru sedikit itulah, yang bisa kulakukan sebagai perwujudan syukurku atas nikmat-Nya yang tak terhitung.

Calon suamiku….

Aku maklum, bila sampai detik ini kau belum juga hadir. Permasalahan yang menimpa kaum muslimin begitu banyak. Kesemuanya membentuk satu daftar panjang dalam agenda kita. Aku yakin ketidakhadiranmu semata-mata karena kesibukan dakwah yang ada. Satu kerja mulia, yang hanya sedikit orang terpanggil untuk ikut merasa bertanggung jawab. Insya Allah, hal itu akan membuat penantian ini seakan tidak pernah ada.

Calon suamiku….

Namun jika engkau memang disediakan untukku di dunia ini, bila kau sudah siap untuk menambah satu amanah lagi dalam kehidupan ini, yang akan menjadi nilai plus di hadapan Allah (semoga), maka datanglah. Tak usah kau cemaskan soal kuliah yang belum selesai, atau pekerjaan yang masih sambilan. Insya Allah, iman akan menjawab segalanya.

Percayakan semuanya pada Allah. Jika Dia senantiasa memberikan rizki, padahal kita tidak dalam keadaan jihad di jalan-Nya, lalu bagaimana mungkin Allah akan menelantarkan kita, sedangkan kita senantiasa berjihad di sabil-Nya?! Banyaklah berdoa, Calon Suamiku, di manapun engkau berada. Insya Allah, doaku selalu menyertai usahamu.

Wassalam,

NB: Ngomong-ngomong, nama kamu siapa, sih?

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *