“Terima Kasih Kak, Kau Telah Menyadarkan Aku”

Nuraini, saudara perempuanku nampak pucat dan kurus sekali. Tetapi seperti biasa ia masih saja membaca Al Qur’an. Jika aku ingin menemuninya, aku selalu pergi ke mushala di rumah kami. Ditempat ini aku selalu mendapatinya sedang ruku, sujud dan merentangkan kedua tangannya untuk berdoa dan meminta ridho dan rahmat dari Sang Penguasa Alam Semesta, Allah SWT. Dan ia tidak pernah jenuh melakukan itu semua.

Berbeda dengannya, aku selalu asyik membaca majalah, buku-buku seni dan tenggelam dalam bacaan komik-komik dalam dan luar negeri. Tontonan video juga selalu mengisi hari-hariku, bahkan aku sudah indentik dengan benda yang satu itu. karena ‘kesibukan’ itu banyak kewajiban yang tak bisa aku selesaikan. Jika sudah berada didepan televise dan memutar kaset video, aku bisa duduk berjam-jam hingga adzan subuh berkumandang. Dan hanya Nurainilah yang mampu membujukku untuk melaksanakan kewajiban sholat subuh.

Begitulah, ia selalu penuh perhatian padaku. Sering memberiku nasihat, sampai akhimya ia terbaring sakit. ia tergeletak lemah di tempat tidur. Walau terbaring sakit, ia masih mampu melantunkan ayat-ayat Al Qur’an dengan suara yang merdu. “Tiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.” (Al Imran: 185). Diam sebentar, lalu ia bertanya: “Apakah kamu tidak percaya adanya kematian?” “Tentu saja percaya!”

“Oh ya, kukira kakak setuju pada liburan ini kita pergi rekreasi bersama?”, pancingku agar ia mengalihkan pembicaraan. “‘Tidak adikku sayang, karena barangkali tahun ini aku akan pergi jauh, ke tempat yang jauh… mungkin… umur ada di tangan Allah, Hanah”, ia lalu terisak. Suara itu bergetar, aku ikut hanyut dalam kesedihan.

Sekejap, langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang ganas. Para dokter, secara rahasia telah mengabarkan hal itu kepada ayah. Menurut analisa medis, para dokter sudah tak sanggup, dan itu berarti dekatnya kematian. Tetapi, siapa yang mengabarkan ini semua padanya?, atau ia memang merasa sudah datang waktunya?, “Mengapa termenung? Apa yang engkau lamunkan?”, Nuraini membuyarkan lamunanku.

Dan kamu, sampai kapan akan terus hidup? Mungkin 20 tahun lagi, 40 tahun atau… Lalu apa setelah itu? Kita tidak berbeda. Kita semua pasti akan pergi, entah ke Surga atau ke Neraka. Apakah engkau belum mendengar ayat: “Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung” ( Ali Imran: 185) “Sampai besok pagi,” ia menutup nasihatnya.

Aku bergegas meninggalkannya menuju kamar. Nasihatnya masih terngiang-ngiang di gendang telingaku, “Semoga Allah memberimu petunjuk, jangan lupa shalat!” Pagi hari…Jam dinding menunjukkan angka delapan pagi. Terdengar pintu kamarku diketuk dari luar. “Pada jam ini biasanya aku belum mau bangun” pikirku. Tetapi di luar terdengar suara gaduh, orang banyak terisak. “Ya Rabbi, apa yang terjadi?”

“Mungkin kakakku…?, “firasatku berbicara. Dan benar, Nuraini pingsan, ayah segera melarikannya ke rumah sakit. Tidak ada rekreasi tahun ini. Kami semua harus menunggui Nuaini yang sedang sakit. Lama sekali menunggu kabar dari rumah sakit dengan harap-harap cemas. Tepat pukul satu siang, telepon di rumah kami berdering. Ibu segera mengangkatnya. Suara ayah di seberang, ia menelpon dari rumah sakit. “Kalian bisa pergi ke rumah sakit sekarang!,” demikian pesan ayah singkat.

Di tengah kerumunan para dokter yang merawat, dari sebuah lubang kecil jendela yang ada di pintu, aku melihat kedua bola mata Nurah sedang memandangiku. Ibu yang berdiri di sampingnya tak kuat menahan air matanya. “Assalamu ‘alaikum!, bagaimana keadaanmu? “Alhamdulillah, aku sekarang baik-baik saja, jawabnya dengan berusaha tersenyum.

Nuraini melantunkan ayat suci Al Qur’an. Aku menguatkan diri. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak menangis di hadapan Nuraini, aku membisu. “Adikku, berdoalah untukku. Mungkin sebentar lagi aku akan menghadap. Mungkin aku segera mengawali hari pertama kehidupanku di akhirat Perjalananku amat jauh tapi bekalku sedikit sekali”.

Pertahananku runtuh. Air mataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. Ayah mengkhawatirkan keadaanku. Sebab mereka tak pernah melihatku menangis seperti itu. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari pada hari itu. Nuraini meninggal dunia. Suasana begitu cepat berubah. Seperti baru beberapa menit aku bebincang-bincang dengannya. Kini ia telah meninggalkan kami buat selama-selamanya.

Kini, tak ada sesuatu yang kuingat selain satu hal. Aku ingat firman Allah yang dibacakannya kepadaku menjelang kematiannya. “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)”. Aku kini benar-benar paham bahwa “Kepada Tuhanmullah pada hari itu kamu dihalau” Tiba-tiba aku tersentak dengan pikiranku sendiri. “Apa yang terjadi jika yang meninggal adalah aku? Bagaimana kesudahanku?” Aku tak berani mencari jawabannya, ketakutanku memuncak. Aku menangis, menangis lebih keras lagi. Allahu Akbar, Allahu Akbar…Adzan fajar berkumandang.

Tetapi, duhai alangkah merdunya suara panggilan itu kali ini. Aku merasakan kedamaian dan ketentraman yang mendalam. Aku jawab ucapan muadzin, lalu segera kuhamparkan lipatan sajadah, selanjutnya aku shalat Subuh. Aku shalat seperti keadaan orang yang hendak berpisah selama-lamanya. Shalat yang pemah kusaksikan terakhir kali dari saudari kembarku Nuraini. Jika tiba waktu pagi, aku tak menunggu waktu sore dan jika tiba waktu sore, aku tidak menunggu waktu pagi.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *