Terima Kasihku untuk Ayah dan Bunda

Entah mengapa rasa rindu terhadap ayah saat ini begitu menggebu, membuat aku ingin sekali menulis tentang perjalanan hidup ayah semasa remaja yang pernah ayah ceritakan saat aku dan kakak-kakakku masih belia. Rasa rindu itu juga membangkitkan kembali kenangan-kenangan kami ketika bersamanya. Masih jelas tercetak di kepalaku saat ayah memberikan nasehat-nasehat keagamaan di bulan puasa nan indah, mengajak kami sekeluarga berangkat bersama-sama ke masjid. Dan anganku kembali ke masa silam.

Saat muda ayah senang sekali mengembara dari satu daerah ke daerah lainnya, entah apa yang membuat ayah sedemikian menyukai petualangan. Yang pasti selama bertahun-tahun sejak ia lulus dari pesantren ayah lebih senang melanjutkan ‘pendidikannya’ dengan belajar dari realita kehidupan sebenarnya. Dengan mampir dari kampung ke kampung. Tidur di Mushola atau Masjid. Mencari makan dari bekerja membantu orang di sawah, mencari kayu bakar atau mencari makan ternak untuk beberapa pesanan, padahal keluarga ayah termasuk dari turunan ninggrat yang cukup kaya di desanya.

Hingga akhirnya ayah tiba di sebuah perkampungan yang sebenarnya hampir mendekati kampung halaman ayah berasal. Mungkin bisa ditempuh dengan 30 menit naik motor untuk sampai ke kampung halaman dimana ayah dilahirkan. Tapi ketika itu ayah hanya memiliki kedua kaki untuk menempuh pengembaraannya. Dan ternyata, di perkampungan pinggiran itulah ayah mengenal ibunda tercinta. Dan disinilah kisah cinta mereka yang unik itu berawal.

Dan di pagi itulah ayah bertemu Ibunda yang sedang berjalan pulang dari mengambil air. Kisah ini kira-kira 48 tahun yang lalu. Usia bapak sekitar 25 tahunan ketika itu. Pagi itu, ayah ingin mandi di sumur tempat Ibunda mengambil air. Dan sumur itu pun milik tetangga kami yang kini telah wafat. Karena pada saat itu rumah nenek belum memiliki sumur. Waktu berpapasan di jalan itulah ayah mencoba menyapa ibu. Karena ayah selalu bersikap ramah kepada penduduk kampung yang beliau singgahi.

Tapi ternyata keramahan ayah itu bikin calon Ibunda itu nervous Ibunda menjadi pucat dan menunduk. Tangan beliau gemetaran, hingga kendil yang semula dirangkul dipinggang pun meluncur jatuh. “Pakkk” kendil berisi penuh air itu duduk tegak di tanah dengan kondisi masih utuh. Airpun tak tumpah, hanya beberapa percikan saja sempat meloncat keluar.

Kemudian ibundaku segera mengambil langkah seribu. Lari tunggang langgang pulang. Meninggalkan ayah yang kebingungan dan kendil yang tak sempat terbawa karena saking takutnya. di bagian inilah yang membuat kami selalu terpingkal-pingkal saat mengulang cerita. Bahkan kedua tokoh inipun sampai mengeluarkan air mata karena geli dengan kisah sendiri.

Singkat cerita mereka berdua akhirnya bisa bersahabat walaupun dengan cara-cara yang bisa dibilang selalu kebetulan dan tidak terencana. Dan akhirnya ayah memutuskan untuk melamar bunda, tetapi sayang rencana ayah ditentang keluarga besarnya. Mereka beralasan bahwa status keluarga ibunda tidak sepadan dengan status keluarga ayah. Walau tak mendapat restu dari keluarganya ayah tetap maju, ia memang ksatria sejati. Konsekwensinya, ayah akhirnya ‘dibuang’.

Namun begitu, sebagai seorang anak yang selalu ingin berbakti pada orang tua, ayah tetap menjaga tali silahturahmi. Setiap akhir pekan ayah beserta bunda selalu menyempatkan diri menjambangi orang tuanya, walaupun saat itu ayah dan bunda selalu saja mendapat perlakuan yang tak menyenangkan dari orang tuanya, diacuhkan bahkan pernah ditolak untuk masuk ke rumah. Tetapi ayah dan bunda selalu bersabar dan membalas semua itu dengan senyum dan keiklasan.

Sampai kakak perempuanku yang pertama lahir, keadaan orang tua ayah tetap tak berubah. Tapi seperti biasa, ayah dan bunda masih tetap menjaga tali silahturahmi. Bahkan saat itu ayah selalu membawa anak pertamanya tatkala mengunjungi rumah orang tuanya. Pun ketika lebaran, walau tak diperbolehkan masuk, ayah tetap memaksa masuk untuk sungkem kepada orang tuanya. Sebenarnya bunda sempat melarang ayah, karena tak tega saat menyaksikan ayah selalu diperlakukan seperti seorang peminta-minta.

Tetapi rupanya Tuhan memang Maha Pengasih, setelah umur kakaku menginjak empat tahun, secara perlahan perlakuan orang tua ayah mulai berubah. Mereka mulai bisa menerima kehadiran ayah dan bunda di rumah, mau bermain-main dengan sikecil bahkan tak jarang membelikan pakaian dan jajanan untuk cucu mereka. Dan ayah meyakini bahwa perubahan itu karena Tuhan selalu mendengarkan doa-doa yang mereka panjatkan

Aku dan adik-adikku memang tak merasakan bagaimana ayah dan bunda berjuang untuk kembali mendapat tempat dihati keluarga besarnya, bukan karena kekayaan mereka, tetapi karena bakti ayah dan bunda pada orang tua tetaplah yang utama. Saat ini kami hidup dalam kelurga yang harmonis dan bahagia, kedekatan kami dengan kakek dan nenek terasa begitu sempurna. Dihari libur kami selalu berkumpul untuk menceritakan kembali masa lalu agar kami memiliki pemahaman yang benar tentang kehidupan. Terima kasih ayah, bunda …..

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *