Terima Kasihku Untuk-MU Ya Allah….

Setiap kali aku melihat seorang anak kecil yang lucu dan menggemaskan, setiap kali itu pula aku merasa menjadi perempuan yang paling menderita di dunia. Seperti juga ketika aku berada dalam sebuah angkot yang menyaksikan seorang anak berumur kurang lebih enam tahun. Aku tersenyum geli mendengar suaranya yang agak sumbang tapi penuh semangat. Bocah itu balas tersenyum padaku, kemudian kembali asyik memberondong ibunya dengan berbagai cerita.

Kureguk tiap kata dan lagu yang dinyanyikannya seperti pengelana kehausan yang menemukan wadi di tengah gurun. Alangkah rindunya aku akan semua itu. Aku tak ingin membandingkan anakku dengan bocah lucu di angkot itu, tapi mau tak mau bayangan anakku singgah ke dalam benakku dan merusak kenikmatanku di siang hari yang panas dan menyengat itu. Yang bayangan Umar (bukan nama sebenarnya) merusak semuanya.

Sejak dokter menyatakan bahwa aku positif mengandung, aku selalu berdoa dan bermimpi tentang seorang anak yang cerdas dan lincah. Anak yang akan kubimbing mengenal Allah dan Rasul-Nya. Yang akan kuajari mengaji dan shalat agar ia bisa mendoakan kedua orang tuanya. Ia akan kubawa tafakur alam ke tempat-tempat yang indah agar pandai bersyukur dan memiliki sifat tawadlu.

Aku akan memperkenalkannya pada saudara-saudaranya yang yatim dan papa agar hatinya lembut dan peka. Yang akan mencintai buku-buku seperti aku dan ayahnya. Anak yang akan jadi seorang pejuang di jalan Allah, demi kebangkitan dan kejayaan Islam seperti yang dilakukan panglima-panglima perang yang telah Kau pilih, yang gagah berani tanpa kenal takut membela kebenaran dan kesucian Islam.

Lalu ke mana bisa kukubur kecewaku saat mendapati Umar tak mungkin mewujudkan semua impianku karena terlahir dengan keadaan down syndrome . Aku hanya bisa berdoa siang malam memohon kekuatan. Aku mengintrospeksi diri, mengingat kembali apa yang telah kulakukan hingga Allah menghukumku dengan memberikan Umar.

Hingga suatu hari kalimat itu menohokku. Anakku adalah amanat-Nya, bukan hukuman, bukan aib. Hanya titipan, bukan milikku. Apakah aku berhak menggugat jika titipan-Nya ternyata tidak seperti anak-anak lain? Aku hanya ditugaskan menjaga dan mengasuhnya dengan cinta, karena ia dititipkan Allah yang rahman dan rahim-Nya tak pernah surut dari sisiku. Bukan tugasku menilai apakah Umar layak jadi anakku atau tidak.

Tapi tak urung kesedihan itu kerap sangat menyakitkan. Tiap kubawa Umar ke dokter dan melihat ibu lain dengan bayi seumur Umar, aku kembali terbenam dalam kepiluan. Entah untuk Umar atau untuk diriku sendiri. Bulan demi bulan berlalu. Sementara bayi lain mulai tertawa dan mengeluarkan suara-suara lucu, Umar hanya diam. Ia memandang kosong ke depan.

Ada kegeraman dan rasa kasihan pada diri sendiri yang tiba-tiba bergolak dan menenggelamkanku. Membuat dadaku sesak dan leherku tercekik. Aku tak tahu apakah harus menyesal atau gembira menyaksikan semua itu. Aku duduk di halte yang sepi. Menarik nafas dalam-dalam dan mengeringkan air mata. Saat aku menengadah mataku tertambat pada papan putih di seberang jalan. Sebuah masjid. Ya Allah, inikah teguran-Mu.? Aku menyeberang. Segera kuambil wudhu dan salat dua rakaat. Air mataku menetes saat kubaca ayat kedua belas dari surat lukman… Anisykurlillahi….

Usai mengucap salam aku tercenung. Kekalutan yang sempat menguasai sudah berhasil kukendalikan. Aku merasa kosong, tapi damai. Lalu satu- satu fragmen kehidupan Umar mulai kembali ke dalam benakku. Bukan gambaran muram tentang kekurangannya, tapi keistimewaan-keistimewaan kecil yang mengimbangi dan melengkapi hidupnya.

Umar suka sekali musik. Ia juga tak pernah nakal dan usil, selalu ramah dan murah senyum. Ia tak pernah marah dan ngambek, dan jika dimarahi, cepat kembali ceria. Ia sangat mencintai adiknya Zahra, yang lahir empat tahun lalu. Kami sempat khawatir Umar akan cemburu dengan kehadiran adiknya. Tapi ia malah antusias membantuku mengurus Zahra. Sering kudapati Umar duduk menatap adiknya yang tertidur dengan ekspresi terpesona yang tak terlukiskan.

Kemesraan di antara keduanya selalu menerbitkan syukur di hatiku dan ayah mereka. Mengurus Umar memang menuntut kesabaran dan kegigihan ekstra dibandingkan mengasuh anak biasa. Tapi Umar memang bukan anak biasa. Ia telah mengajarkan kepada kami makna mencintai tanpa pamrih yang hakiki.

Kudorong gerbang rumah dan kuserukan salam. Sahutan riang menyambutku. Pintu terkuak. Zahra menghambur memelukku sementara abangnya tersenyum lebar sambil berjalan goyah di belakangnya. ‘Ibu bawa apa, bawa apa?’ tanya Zahra. Ia memekik ketika kukeluarkan sekantung mangga ranum dari keranjang belanjaku. Umar tersenyum. Matanya yang semula kosong berbinar. Mangga adalah buah kesukaannya.

Aku masuk ke kamar untuk berganti baju setelah berpesan pada pembantu untuk mencuci dan mengupaskan mangga buat anak-anak. Saat aku keluar, mereka tidak berada di meja makan. Kupanggil mereka dan kudengar sahutan dari halaman belakang. Di depan kandang burung parkit Zahra melonjak-lonjak dan tertawa melihat abangnya dengan sabar menyodorkan potongan mangga lewat jeruji bambu. “Ayo kuning! Jangan diam saja! Tuh diambil si hijau deh!” teriak Zahra. Satu demi satu burung-burung parkit dalam kandang terbang menyambar potongan mangga dari tangan Umar.

Aku bertasbih. Mataku pedih. Sudah lama aku mengamati keistimewaan Umar untuk mencintai dengan keikhlasan yang bersih dari egoisme anak seusianya. Cintanya sangat tulus pada burung-burung kesayangan suamiku, pada ikan hias dan ayam kate yang kami pelihara untuk mengajar anak-anak bertanggung jawab.

Bahkan pada bunga-bungaku di kebun. Ia gembira mengurus semua itu, walaupun tak pernah mendapat imbalan apapun dari kami. Kelembutannya terulur bahkan pada kucing-kucing liar yang sering diberinya makan atau anak-anak tetangga yang kerap mendapat bagian dari jatah kue dan buahnya tanpa menuntut balasan apapun. Aku memang tak punya alasan untuk bersedih dan kecewa.Umar mungkin tak bisa membaca dan mengaji. Tapi perasaannya halus dan penuh kasih sayang. Dan aku sangat bersyukur atas kelebihannya.

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *